Langsung ke konten utama

Work & Holiday Visa yang Menjawab Mimpi

packing dan bingung mau bawa apa aja
Setelah lulus kuliah setahun lalu, saya getol banget cari beasiswa di luar negeri. Kuliah lagi?? Yaaa.. Sebenarnya urusan luar negeri ini obsesi dari dulu. Saya punya kebiasaan membuat target-target obsesi seperti: saat usia 17 tahun harus membuat sesuatu yang spesial, alhamdulillah terbit novel pertama, Jadian 6 Bulan. Nah, dari dulu sudah punya obsesi pokoknya sebelum usia 30 tahun harus bisa merantau & tinggal di luar negeri. Dalam hal ini luar Asia. 

Jadilah, berburu beasiswa merupakan proses melelahkan sejak tahun lalu. Hasilnya, gagal melulu. Apalagi cari beasiswanya nggak mau yang dari Indonesia karena males dengan syarat memberi timbal balik (nggak nasionalis kamu, Rhein!). Jelas saja persaingan skala internasional lebih ketat, Neng! Bersaing sama pemuda-pemuda hebat Indonesia saja belum tentu mampu. Loba gaya maneh..

Emangnya mau ngapain ke luar negeri, Rhein? Belajar. Itu saja alasan saya. Saya ingin belajar hidup di negara lain, belajar mandiri, belajar berbaur, belajar bersikap dan menghayati keadaan ketika menjadi kaum minoritas, dan tentunya belajar ilmu-ilmu baru secara profesional yang sulit didapat di Indonesia, creative writing contohnya. 

Sampai suatu hari, teman backpacker saya memberi tahu perihal Work and Holiday Visa

Wah, spesies apa tuh?

Nah, saya kan sering baca cerita para backpacker kelas dunia yang berkelana dalam waktu tahunan, ngegembel di beberapa negara, sambil kerja part time apa saja. Ternyata, para backpacker itu pakai sejenis program ini dari negara mereka masing-masing. Backpacker dari Indonesia bisa? Bisa dong... Untuk saat ini hanya untuk ke Australia. Setelah cari info kesana kemari, program ini menjawab semua yang saya butuhkan: bisa belajar di institusi, bekerja part time, dan backpacking. Cihuy banget WHV Australia ini, kan!

Caranya susah? Bayar berapa? Perlu agen khusus? Syarat lengkap dan prosedur ada di website imigrasi: Rekomendasi Visa Bekerja dan Berlibur. Saya akan share pengalaman pribadi saat melalui proses mendapatkan visa ini. 

Ketentuan Umum:

1. Telah berusia 18 tahun atau belum berusia 30 tahun pada saat pengajuan permohonan surat rekomendasi;
2. Memiliki kualifikasi setingkat perguruan tinggi, atau telah menjalani pendidikan di perguruan tinggi setidak-tidaknya 2 (dua) tahun pendidikan;
3. Belum pernah mengikuti program bekerja dan berlibur sebelumnya;
4. Memiliki paspor yang berlaku sekurang-kurangnya 12 bulan;
5. Memiliki tingkat kemahiran berbahasa Inggris sekurang-kurangnya tingkat fungsional;
6. Tidak disertai oleh anak-anak di bawah umur;
7. Memiliki sejumlah dana seharga tiket pergi-pulang dan untuk membiayai keperluan selama masa awal tinggal di Australia;
8. Surat Rekomendasi berlaku 1 (satu) bulan sejak tanggal dikeluarkan;
9. Permohonan Surat Rekomendasi tidak dapat diwakilkan.

Syarat:
1. Form Identitas (download di web imigrasi);
2. Kartu Tanda Penduduk (KTP);
3. Akte Kelahiran;
4. Paspor dengan masa berlaku minimal 12 bulan;
5. Ijazah perguruan tinggi minimal Diploma III, atau Surat Keterangan sebagai mahasiswa aktif setidaknya 2 tahun, dilengkapi Kartu Mahasiwa (KTM) dari perguruan tinggi bersangkutan;
6. Memiliki sertifikat kemampuan berbahasa Inggris IELTS dengan minimal score 4.5 ;
7. Surat keterangan / Jaminan Bank atas kepemilikan dana sejumlah AUD $ 5000 (lima ribu Dollar Australia) atau yang setara;
8. Pas foto terakhir berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 1 lembar, latar belakang putih.

Catatan:
1. Pada saat wawancara untuk membawa seluruh persyaratan asli dan fotokopi ;
2. Berkas fotokopi dimasukkan dalam map warna biru dengan urutan seperti di atas;
3. Tidak dipungut biaya selama proses pengeluaran surat rekomendasi;
4. Sertifikat bahasa Inggris dalam bentuk prediction TIDAK DITERIMA.

Proses yang saya jalani:
20an September 2015: registrasi online di website imigrasi.
7 November 2015: Cek website imigrasi dapat panggilan interview.
9 November 2015: Interview di imigrasi
10 Nov 2015-5 Jan 2016: Banyak-banyak doa supaya lolos seleksi SRPI.
6 Januari 2016: Dapet email cinta dari imigrasi dapet surat sakti SRPI.
8 Januari 2016: Lodge ke AVAC, prosedur dan syarat bisa dilihat di sini.
12 Januari 2016: Dapat HAP ID untuk medical check-up di RS yang ditentukan Kedubes Australia.
14 Januari 2016: Medcek ke RS di Bintaro.
15 Januari 2016: Visa granted.
Total sekitar 4 bulan proses.

FAQ Work & Holiday Visa:
1. SRPI itu apa sih?
Surat Rekomendasi Pemerintah Indonesia yang dikeluarkan pihak imigrasi sebagai syarat mendaftar Work & Holiday Visa (WHV Australia).
2. Jadi apply visa-nya bukan ke Australia Embassy langsung?
Bukan. Harus lewat seleksi imigrasi dulu dengan syarat-syarat di atas.
3. Berapa lama dari registrasi online hingga dapat panggilan interview imigrasi?
Hanya pihak imigrasi dan Tuhan yang tahu. Bukalah website imigrasi tiap hari. untuk lihat pengumuman. Dengar-dengar sekarang imigrasi juga melakukan panggilan interview melalui email, untuk lebih aman, cek website juga.
4. Berapa lama dari interview hingga dapat SRPI?
Hanya pihak imigrasi dan Tuhan yang tahu. Rata-rata 2 bulan. Sabar ya.
5. Saya lulusan SMA, bisa ikut program ini?
Nggak bisa.
6. Usia saya sudah 30 tahun jalan, apa masih bisa ikut program ini?
Lah maksimal aja usia 30 tahun... Nggak bisa.
7. Apa semua berkas perlu ditranslate ke bahasa Inggris?
Nggak perlu.
8. Syarat bahasa Inggris harus IELTS? Kalau TOEFL boleh ngga? ITP boleh? TOEIC?
Harus IELTS atau lulusan universitas di luar negeri yang berbahasa pengantar English.
9. Tapi di website imigrasi masih ada pilihan TOEFL dan TOEIC.
Ya udah, kalau mau nggak lolos SRPI silakan. *ngambek, karena ini pertanyaan sering banget diajukan*
10. Saya lulusan sastra Inggris di kampus di Indonesia masih butuh IELTS? Kampus saya juga menggunakan bahasa pengantar English.
Iya. Tetap pakai IELTS.
11. Dana 5,000AUD itu berapa? Saya nggak punya dana segitu apa masih bisa?
Dalam rupiah sekitar 50,000,000. Tambahkan dengan tiket pesawat, anggaplah minimal 55,000,000 itu harus ada di tabungan. Kalau nggak punya, bisa menggunakan tabungan keluarga yang ada dalam 1 Kartu Keluarga dengan menyertakan surat khusus. Misal pinjam ke orang tua. Nggak punya juga? Cari uang dan nabung dulu aja yaaaa...
12. Saya sudah berkeluarga apa bisa ikut program WHV ini?
Tetap bisa ikut program ini selama tidak membawa anak-anak saat ke Australia. Kalau sudah menikah dan pasangan ingin ikut, bisa mendaftar juga selama sesuai syarat. Pendaftaran masing-masing, tidak pengaruh sudah menikah atau lajang, proses tetap sama.
13. Berapa lama visa berlaku dan kita bisa tinggal di Australia?
Satu tahun. (ada isu akan diperpanjang jadi 2 tahun, tapi baru isu)

Jadi, yang punya mimpi ingin merantau ke luar negeri dan ternyata satu spesies ‘manusia bodoh seperti saya, bisa coba WHV ini. Sebentar lagi saya insyaAllah berangkat. Yeeaayy... satu mimpi saya tercapai lagi, alhamdulillah. Doakan lancar ya. Daftar short-course yang akan saya ikuti sudah panjang. Hahaha...


ps: Saya bukan pegawai imigrasi atau agen visa. Boleh tanya-tanya di komentar dan akan saya jawab sesuai pengalaman pribadi, bukan jawaban resmi.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

besinikel mengatakan…
Tipeeeeet, selamat berpetualang yaaa! ;)
Ila Rizky mengatakan…
Visanya berlaku untuk berapa lama, mba Rhein?
wxrm mengatakan…
yeah \m/
pokoknya saya selalu senang mendengar siapapun yg bersemangat mencari ilmu dan pengalaman, sukses ya teh!
rhein fathia mengatakan…
@besinikel:
Thank you, Buniiii.... Doakan aku yaaaa :D

@Ila:
Berlaku satu tahun dan multi-entry, kak. Bisa bolak-balik

@wxrm:
Makasih, om.. Sukses buat om jugaaa :)
Kak Rhein, hihi... WMV pernah kubaca entah di blog siapa, emang asyik sih kayaknya ni program, kerja sambil liburan, ditambah belajar juga, waah... Ostrali lagi, waaa. Nitip doa ya pas disana, biar ikut kebawa. Amin... ^^

Btw, ambil short course apa aja nih?
nhae gerhana mengatakan…
Waahh senangnya.. Semoga lancar yaaa.. Suksess
nhae gerhana mengatakan…
Waahh senangnya.. Semoga lancar yaaa.. Suksess
Almira Sifak mengatakan…
hmmmm.....mbak Rhein, makasih yaa udah cerita pengalamannya.....masih besusaha ngejar syarat yang dibutuhkan.....woowwww
Yurizsica mengatakan…
Kak, nanya dong. Itu waktu interview di tanya-in apa aja yaa?
Masayu Rochma mengatakan…
Kak share no.kontak dong... Email aq yak masayurochma@gmail.com
Whatsapp or else deh 😊 mau tanya2 🙏

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …