Langsung ke konten utama

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))

Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!

No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian orang. Kemudian Ibu juga berkata, “Teteh itu nggak sepintar Uki-Bani, tapi Teteh itu rajin.”

Jadi, sebagai anak dengan kecerdasan standar dan cukup berhasil melewati tantangan dunia akademis, saya ingin berbagi tips belajar untuk kamu-kamu yang masih sekolah/kuliah supaya tidak menyesal nantinya, karena sungguh kita hidup di negara yang masih menilai banyak hal melalui lembar kertas dengan angka dan kita harus beradaptasi akan hal itu. Ingat pelajaran biologi, makhluk hidup yang mampu bertahan hidup adalah yang mampu beradaptasi dengan lingkungan.

1. Motivasi & Niat
Saya nggak punya niat belajar yang tinggi. Sumpah! Apaan coba, berangkat sekolah pagi, belajar di kelas sampai sore, malam ngerjain PR, kalau PR banyak banget dan soalnya susah harus berangkat pagi-pagi buat nyontek temen, terus kapan mainnya? Untungnya, saya punya orang tua yang bisa memberi motivasi belajar dengan tepat, “Teteh, kamu anak pertama harus bisa jadi contoh adik-adik. Harus pintar, jadi panutan.” Ini ampuh sih, karena saya nggak mau adik-adik malu punya Teteh bodoh. Gengsi, dong? Ya kalau gengsi itu punya efek bagus, why not? Loh berarti adik-adik boleh malas belajar karena nggak harus jadi panutan? Oh, motivasi untuk mereka datang dari saya, “Jangan bikin ‘bau’ nama keluarga yang sudah Teteh harumkan karena Teteh dapat nilai baik!” Muhahahaha...

Coba, kamu cari motivasi apa yang kira-kira bisa memecut keinginan belajar? Cita-cita? Pamer sama gebetan? Memperbaiki taraf hidup keluarga? Menjadi generasi muda Indonesia yang mengguncang dunia? Apa pun.. Motivasi itu yang akan menimbulkan niat & semangat. Luntur pasti sering.. sering banget malah sampai-sampai kalau istilah cucian jadi sewarna tie dye. No problem, selama motivasi & niat itu bisa jadi sumber daya untuk kamu mau lanjut belajar.

Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Minimal kalau jatuh ya ke puncak gunung, bukan di palung laut. Kalau menggantungkan cita-cita setinggi puncak gunung, minimal jatuhnya di pohon kelapa. Menurut penelitian, segagal apa-pun usaha, biasanya paling 20% di bawah dari apa yang dicita-citakan. Nggak jelek-jelek amat lah... Ibarat pengen punya suami kayak Prince William, ya sekarang masih jomblo ajaaa.. Hahaha...

2. Belajar & Pendidikan itu Penting
Ini nggak usah dibantah, percaya aja! Yang ngomong gini pasti orang tua atau guru kamu, udah lebih tua, mereka udah pernah jadi kamu, jadi meski klasik, percaya aja! Ibarat kalau ada temen kamu pernah ke Amerika dan bilang di sana ada patung Liberty, kamu pasti percaya, kan? Karena dia udah pernah ke sana dan kamu belum.

Tapi, Bill Gates DO tetap pinter dan jadi orang terkaya di dunia. Steve Jobs DO bisa jadi pengusaha sukses dengan Apple. Well... well.. Sini saya kasih tahu karena pernah baca biografi mereka. 

Bill Gates itu GENIUS dan keluarganya TAJIR MAMPUS tujuh turunan. Tahu alasan Bill Gates keluar dari kuliahnya? Karena dia BOSAN, karena di kelasnya temen-temennya menyerap pelajaran tidak secepat dia, menurutnya itu buang-buang waktu. Jadi, mending Bill Gates keluar, DO, belajar sendiri, dan dengan modal dari keluarga dia bikin perusahaan sendiri. Jadi, Bill Gates DO karena kepinteran! Lah, kamu mau DO karena apa coba?

Sekarang Steve Jobs. Dia juga GENIUS, tapi keluarganya biasa aja malah bisa dibilang dari kalangan menengah ke bawah. Nah, Steve Jobs ini otaknya bisnis banget, dia mau kuliah tapi nggak mau bayar, dia cuma mau ilmunya. Jadi, dia negosiasi sama pihak kampus, akhirnya dia tetap boleh datang kuliah, belajar seperti biasa di kelas-kelas yang dia mau aja, dan nggak usah bayar. Konsekuensinya tentu nggak bisa ikut ujian dan jadinya DO. Coba.. kamu.. udah bayar kuliah mahal, tetep aja sering bolos, kan?

Mereka sukses? BANGET! Bill Gates & Steve Jobs adalah sahabat baik dan bisa dibilang mereka mengawali usaha di waktu yang berdekatan. Berapa waktu yang mereka butuhkan untuk sukses? PULUHAN tahun.

Contoh lain lagi adalah Larry Page dan Sergey Brin. Iya, mereka berdua founder Google. Ini adalah contoh mahasiswa baik-baik, GENIUS, dari keluarga sederhana, LULUS KULIAH, mendirikan Google. Berapa lama waktu yang mereka butuhkan agar bisa menjadikan Google sebagai perusahaan raksasa yang menguasai rekam data seluruh dunia mulai dari ‘jawaban pe-er matematika yang pertanyaannya kamu copy-paste di google search’ sampai ke pencitraan satelit palung laut terdalam? KURANG DARI 15 TAHUN! Dan mereka masih muda! Kalau Mark Zuckerberg gimana? Yaaa.. Pastinya sih dia nggak Facebook-an melulu.

Dapet kan maksudnya? Belajar dan pendidikan sangat penting. Pendidikan akademis bisa ‘memperlancar & mempercepat’ untuk mendapatkan apa yang kamu mau (selama itu sesuai, ya. Kalau kamu mau jadi chef tapi kuliahnya di elektronika ya jaka sembung). Percaya, ya!

3. Jangan Malu & Curi Start
Duh, tapi saya lemot... Baru belajar sedikit, belum ngerti, eh... gurunya udah ganti bab materi baru, makin pusing, dah! Saya dulu sering begini dan emang malu kalau tanya, dijelasin, dan tetep nggak ngerti. Hahaha... Gengsi? Nah, ini gengsi yang salah. Beberapa solusi yang saya lakukan dulu:

- Belajar dengan ortu. Seperti yang sudah disebutkan kalau saya susah fokus saat di keramaian (boro-boro dalam kelas yang banyak siswa, bimbel eksklusif yang hanya 5 siswa aja saya nggak bisa), maka saya bersyukur punya Bapa-Ibu pintar-pintar. Sejak SD-SMP setiap pulang sekolah pasti mengulang pelajaran bareng Ibu, kalau malam Bapa bantuin ngerjain PR (diajarin ya, bukan PR dikerjain Bapa). Apalagi setiap liburan semester, Ibu pasti sudah membeli buku-buku untuk semester depan dan saya harus menguasai materi sebelum sekolah masuk lagi. APA, RHEIN? LIBURAN KAMU MASIH BELAJAR MATERI SEBELUM WAKTUNYA?? Ya gimana dong, kan saya nggak pintar, saya lemot... Supaya bisa mengimbangi teman-teman lain yang pintar, caranya harus curi start, harus belajar duluan supaya pas belajar di kelas nanti nggak bego-bego amat, harus berusaha EKSTRA KERAS dibanding yang lain.

- Panggil guru privat. Masih urusan susah fokus di keramaian, saat saya SMA, ortu mulai membuka bisnis dan sulit membagi waktu untuk mengajari (apalagi adik-adik juga perlu didampingi belajar). Maka saya meminta ortu untuk memanggil guru privat, YANG SUPER SABAR, karena saya lemot. Dengan guru privat jadi lebih bebas bertanya materi yang tidak dimengerti tanpa perlu malu dan gengsi.

- Belajar kelompok dengan teman. Ugh.. Ortu nggak ngerti materi pelajaran dan guru privat itu bayarnya mahal. Solusi lain adalah belajar tambahan dengan teman kamu yang pintar. Yakin deh, siswa yang pinter beneran itu pasti baik hati mau meluangkan waktu untuk menjawab/mengajarkan hal yang kamu nggak ngerti. Tapi ingat, ya... Dari pengalaman, belajar berlima itu jatuhnya jadi gosipan, belajar bertiga itu biasanya yang 2 belajar, yang 1 main hp. Dulu pas SMA kelas 3, sepulang sekolah biasanya saya dan Mr. R yang superpintar nongkrong di perpus, kadang berdua seringnya bertiga dengan Ms. Husna (biasanya, saya yang main hp). Kami yang kurang pintar ini diajarin Mr. R supaya pada lulus UAN, dapet bonus belajar buat SPMB pula (SBMPTN, SNMPTN, duh apa sih namanya sekarang?). Cari siswa pintar yang SABAR juga, ya.. Yang nggak akan bosan atau men-judge kamu bego kalau nggak ngerti melulu rumus-rumus njelimet itu. *Rhein, kok kayak cerita CoupL(ov)e?* #abaikan

So, jangan malu untuk bertanya apa pun supaya kamu bisa belajar dan paham materi pelajaran. Jangan menyerah melakukan usaha apa pun atau mengambil kesempatan apa pun supaya kamu bisa mengimbangi teman-teman yang pintar. Selalu ada jalan, kalau kamu mau.

4. Mungkin Nilai Hanya Kadang-Kadang Penting, tapi Kepribadian Selalu Penting
Dulu saya kuliah apa coba? Yes, Fisika Nuklir Partikel **BOOM!!** Terus sekarang jadi apa coba? Yes, penulis novel roman picisan. Jangan disangka karena lemot terus nggak dapat pekerjaan yang sesuai jurusan kuliah, saya dapat tawaran juga kok. Saya aja yang nggak mau... Kan udah dibilang sejak awal kalau saya hobinya baca komik, novel, mengkhayal, sama jalan-jalan. 

Untungnya, semua yang saya lakukan untuk memenuhi ekspektasi ‘menjadi anak sulung yang menjadi panutan untuk adik-adik’, semua usaha belajar untuk bisa mengimbangi teman-teman pintar, semua lelah-pusing-tangis untuk lulus dengan nilai/IPK bagus, telah membentuk kepribadian yang tangguh (siap-siap, saya mau nyombong). Ya, saya memiliki rasa ingin tahu yang besar (penting untuk riset novel), saya rajin mempelajari hal baru dengan tekun dan sabar (untuk menghasilkan novel dengan teknik bagus), saya tidak mudah menyerah dan bisa cepat mengambil kesempatan dalam kesempitan (novel Gloomy Gift ngga dijual di luar Jawa, dan saya jualin aja, banyak yang beli kok). Saya nggak minder dicemooh orang selama melakukan hal baik yang saya cita-citakan. Jangan salah, karena lemot, yang nge-bego-bego-in juga ada. Sekarang, saat ada yang mencemooh hobi promosi novel melulu, jadi kebal karena toh nggak merugikan siapa-siapa.

Maka saat dosen pembimbing bertanya usai saya sidang, “Gimana rasanya punya gelar Master?”, saya ringan menjawab, “Nggak gimana-gimana sih, Pak. Soalnya bukan gelar yang bikin novel saya best-seller”. Muhahahaha... 

Benar, gelar dan selembar kertas itu ada kalanya menjadi penting (lamar pekerjaan, cari beasiswa, nggak bisa dipungkiri kita cari duit 'lebih mudah' kalau ada kertas itu). Namun, yang selalu menjadi penting adalah kepribadian yang terbentuk karena kamu tangguh berusaha melewati tahap-tahap pendidikan itu. Jangan pernah menyesal karena kuliah di jurusan yang beda dengan keinginan atau pekerjaan. Jalani, usahakan yang terbaik. Di sana kamu ditempa menjadi sosok yang nantinya bisa menikmati hidup dalam keadaan apa pun. Ingat pelajaran biologi tentang adaptasi tadi.

Target yang selalu saya buat adalah memiliki IPK atau nilai minimal bisa mendaftar sekolah/kuliah ke luar negeri. Ih, sombong banget lemot begitu mau belajar ke luar negeri. Lah, iya dong... Kita ini harus punya standar bersaing secara internasional. Kan kalau cita-cita setinggi langit, jatuhnya minimal di puncak gunung.

5. Spiritual
IQ rada jongkok, EQ ya lumayan, SQ jangan dilupakan. Percayalah, Tuhan bersama orang-orang yang mau berusaha dan belajar. Bukankah janji Allah tidak pernah ingkar? Dia akan menaikkan derajat orang-orang yang berilmu. Jangan pernah lupa mendoakan orang tua, minta doa juga ke mereka supaya dilancarkan segala urusan kamu. 

Wah, panjang juga ya curhat saya. Hahaha.. Jangan pernah menyerah ya, kamu-kamu yang merasa tidak pintar. Selama keinginan untuk meraih yang kamu mau itu terus terbakar, kamu pasti mampu menjalaninya. Kalau kata Mr. R yang selalu memotivasi saya, “Lihat ke belakang, udah banyak yang berhasil lu capai. Lihat ke depan, ada banyak hal yang akan dan bisa lu raih.”

SEMANGAT!! :D


Salam Super,
cewek ter-lemot lulusan Fisika Nuklir Partikel dan penulis roman picisan

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Shanti mengatakan…
Tipet,
AKU NGEFAAAAANS~
besinikel mengatakan…
gw klo award2an sll pengen dapet, apa aja gapapa.. sayang, gw sll ga masuk.. hiks.
wxrm mengatakan…
saya sih sdh ga begitu pinter, masih aja ditambah pemalesan huuhu *malah curcol*
Myra Nurfitriani mengatakan…
thanks udah berbagi ilmu & pengalamannya :)
aku kagum sma kak Rhein, jadi pengen kenal langsung...
btw, Mr. R itu namanya Raka ya? *sok tau
rhein fathia mengatakan…
@Shanti:
Muhahahaha.... :))

@besinikel:
Fen plis lah.. :))

@wxrm:
om ini suka merendah..

@Myra:
Hmmm.. gimana ya :D
Rifda Younanda Mutiara mengatakan…
Kak rheiiiin ..
Tulisannya mood booster banget ..
Terima kasih kak .. Mauu jadi fansnya jugaaak ..

Salam kenal rifda :)
septa pratiwi mengatakan…
Aku ngefans sm yg nulis ini. Jdi termotivasi meraih mimpi.
Fidelis Ardian mengatakan…
keren, inspiratif.. hehe

penulisan membawa suasana yg bisa dirasakan hahaha

Sukses terus kk Rhein u/ The next target, semoga bisa diraih hihi
Fidelis Ardian mengatakan…
keren, inspiratif.. hehe

penulisan membawa suasana yg bisa dirasakan hahaha

Sukses terus kk Rhein u/ The next target, semoga bisa diraih hihi

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …