Langsung ke konten utama

Dansa Masa Lalu Officially Published for FREE!

Hai! :D

Dari dulu saya selalu ingin memiliki novel yang bisa dibaca oleh banyak orang tanpa mereka kesulitan mendapatkannya. Untuk mencetak sendiri dan bagi-bagi gratis jujur saya belum mampu secara finansial (semoga suatu hari nanti, untuk pembaca di pelosok Indonesia yang kesulitan akses). Baru dalam bentuk online ini saya mampu. Karena bagi saya, apalah artinya menulis selain untuk berbagi :)

Seperti yang sudah saya gembar-gemborkan beberapa waktu lalu (bagi follower di twitter atau wattpad pasti tahu), akhirnya saya jadi juga me-launching novel Dansa Masa Lalu ini. Yeaayy! 

Novel ini bisa didownload gratis, hanya perlu 'membayar' dengan share di twitter atau facebook kalian. Formatnya pdf yang bisa kalian simpan di PC, laptop, atau ponsel, sehingga bisa dimana saja kalian sempat. Ceritanya masih sama seperti di wattpad.com/rheinfathia, dan tidak dihapus juga yang di sana. Hanya lebih mudah diakses karena bisa dibaca secara offline.

Novel ini saya tulis & terbitkan sendiri dalam bentuk ebook. Jadi, tidak ada perusahaan lain atau penerbit yang mensponsori baik secara finansial atau promosi. Saya akan senang sekali kalau para pembaca mau ikut membagikan ebook gratis ini di social media apa pun. Karena bukankah menyenangkan ketika kita bisa berbagi hal kecil dan berharap memancing kebahagiaan atau senyum pada orang lain :)

Selamat mengunduh, selamat baca, dan semoga suka! 



Nah, kalau mau mendapatkan novel saya yang lain, bisa ke SINI
Doakan saya terus berkarya dan berbagi yaaaa... Me love you! 


Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Anonim mengatakan…
ini sungguh KEREN!
argh project ebook gratisan saya mandeg semandeg2nya, dasar pemalesan saya ini #malahcurcol haha

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…