Langsung ke konten utama

10 Tahun "Jadian 6 Bulan"

Tanpa terasa, 10 tahun sudah sejak awal karier saya sebagai penulis dimulai. Masih segar dalam ingatan, saat itu saya masih duduk di kelas 3 SMA (XII, bahasa anak gaul sekarang). Februari 2005, setelah mendapat kiriman cover novel Jadian 6 Bulan yang akan terbit, saya print gambar tersebut, pamer keliling sekolah, dan dengan bahagia mengabarkan kalau novel buatan saya akan segera terbit. Tak lupa menunjukkan nama saya tercantum di cover buku pastinya. Saya tidak tahu se-norak apa saya dulu saat pamer ke sana kemari, tetapi saya masih ingat salah seorang kakak kelas nyletuk sambil senyum,
“Kamu terlihat bahagia sekali, ya.”
Dan, saya tertawa. 




Mundur ke belakang, setahun sebelumnya saat masih dalam proses penulisan novel tersebut. Di antara tren novel-novel Islami saat itu yang booming dengan jihad, pernikahan dalam Islam, konflik Palestina, atau sekedar bacaan ringan tentang cinta remaja tanpa pacaran, saya malah mengusung tema ‘anak rohis pacaran’. Hahaha... Sebagai anak rohis juga di sekolah, saya menulis naskah Jadian 6 Bulan tanpa cerita ke teman-teman mana pun. Sempat ada pergolakan hati, really? Should I write this story? Ini anak rohis kok malah pacaran? Keputusan nulis naskah ini sampai bikin saya solat istikharah! xD

Meski sebenarnya saya menyelipkan tema utama yang lebih ‘berat’, mungkin? Bahwa sejatinya, sebagai muslim, cinta kita kepada Allah haruslah berada di atas segalanya.

Proses penulisan membuat saya menjadi pengkhayal ulung. Baik dari isi cerita maupun mimpi kali yeeeee ketika saya curhat ini itu sama adik-adik bilang bakal bagi-bagi duit royalti untuk mereka. Ibu saya sampai tertawa dengan khayalan saya tentang duit itu. Muhaha... Tapi benar, yang menjadi pembaca pertama Jadian 6 Bulan adalah adik-adik saya sendiri, mereka masih SMP dan SD, tapi bisa memberi komentar ini itu tentang penulisan saya. 

Bagaimana pun, sebagai penulis pemula, saya punya rasa malu dan minder kalau harus meminta orang lain membaca naskah tersebut. Takut ditertawakan, takut dianggap jelek. Siapa sih penulis pemula yang nggak merasa begitu? :). Apalagi saya tidak berada di lingkungan penulis. Lupakan mentor menulis, workshop literasi, atau riset via google, belum familier di zaman itu (tua banget sih lu, Rhein). Saya rajin baca koran dan majalah untuk riset saat itu (Plis lah, mana saya tahu Kobe Bryant pemain basket?).

Karena rasa minder, print out naskah Jadian 6 Bulan sempat mengendap selama tiga bulan tanpa saya apa-apakan. Saat itu tidak ada perasaan takut ditolak, hanya merasa malu dengan tulisan sendiri. Sampai akhirnya Bapak yang meminta draft tersebut dan berjanji akan mengirimkan melalui pos. Setelah itu, lupa deh... Sampai tiga bulan kemudian, yang saya ingat betul karena saat itu baru bangun tidur siang, tiba-tiba ada telepon yang mengabarkan kalau novel Jadian 6 Bulan akan diterbitkan, dan membuat saya berpikir, “Ini bukan mimpi di tidur siang, kan?” Hahaha..

Selanjutnya adalah hari-hari bahagia. Saya main ke kantor Mizan, belajar bagaimana dunia penerbitan, juga sedikit banyak tentang dunia literasi.

Bagaimana rasanya 10 tahun menjadi penulis?

Senang, tentu. Terlebih karya saya ternyata banyak yang suka, bahkan kata editor saya termasuk best-seller, sampai cetakan ke 4 dalam waktu 2 tahun kalau nggak salah. Padahal kata editor saya, Jadian 6 Bulan bukan termasuk buku yang dipromosikan banget oleh penerbit dan apalah saya saat itu masih anak SMA culun mana tahu tentang marketing. Yang saya tahu, saat itu banyak email-email dari pembaca, banyak yang nge-add friendster (FRIENDSTER??), dan tak lupa bertanya, “Itu kisah pribadi kamu??”. Oh plis lah, mana berani saya curhat kisah cinta sendiri...

Tak lupa, saya masuk koran lokal, diwawancara majalah Horison (Iya, majalah sastra itu, lho), sampai ada yang menelepon saya untuk membuat Jadian 6 Bulan sebagai bahan skripsi. Duh, saya terharuuu~~~. Komentar buruk? Ada juga lah... Jadian 6 Bulan telah mengajarkan saya bagaimana rasanya memiliki karya yang dinikmati banyak orang, yang mengajarkan saya bagaimana me-manage perasaan agar tetap rendah hati ketika mendapat pujian, juga mengajarkan bagaimana me-manage emosi ketika mendapat kritik dan cercaan. 
See, sebuah buku tidak hanya memberi efek pada para pembacanya. Justru efek terbesar adalah untuk penulisnya sendiri.
Sepuluh tahun sudah, dan alhamdulillah saya masih bisa berkarya. Namun, tetap bagi saya Jadian 6 Bulan adalah masterpiece. Kata Ibu, karya itu adalah cerminan hati saya yang masih bersih dan polos, (Iya, sekarang hatinya udah tercemar.. huhuhu). Saya senang meski sudah 10 tahun, Jadian 6 Bulan masih bisa dinikmati pembaca.

Karena apalah bahagianya sosok manusia, selain ketika ia bisa menyampaikan sedikit kebaikan dan kebahagiaan pada sesama.. :)



Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Hans Febrian mengatakan…
10 tahun yang lalu, kelas 3 SMA. hmmm ketauan tuanya. *dikeplak* hahahaha.
keren ya Rhein, kelas 3 SMA aja udah langsung bisa diterbitin.
gue udah tua gini nulis novel, pas dikirim ke penerbit cuma dapat surat penolakan

direject... direject.. direject ajaaah.. *joget dangdut*
Indah Alfajarina mengatakan…
Halooo mbakk rheinn.. Aku juga pnya novel mu itu lohh.. Suka bangett 10 tahun yang lalu aku beli pas jaman smp.. Ahh ternyata baru ketemu sama penulisnya sekarang.. (ʃ⌣ƪ) ..

Terus berkarya mbak.. (ˆ⌣ˆ)ง

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …