Langsung ke konten utama

Review Macbook Air 11 Inch

Rhein nggak biasa nulls postingan review di blog, lebih sering curhat. Maka, kali ini pun Rhein hanya ingin curhat tentang review Macbook Air 11" yang telah menemani hari-hari baik suka mau pun duka sebagai penulis.

Senjata penulis itu apa sih? Dulu sih pena, sekarang juga masih. Tapi ibarat penembak yang senjatanya pistol, pasti ada pendamping 'senjata' yang bisa mendukung dan memaksimalkan kekuatan senjata utama. Aduh Rhein, nggak usah muter-muter, deh, buruan reviewnya. 

Berawal dari Rele, laptop lama yang mulai kena penyakit mati tiba-tiba. Toshiba itu entah kenapa sering mati tiba-tiba dan kalau dinyalain lamaaaa~~ banget! Sampai bisa ditinggal mandi. Kesal? Pastinya lah. Jangan ditanya urusan baterai karena udah drop sejak lama, harus pakai kabel charger., start power lama, suka mati tiba-tiba (padahal Rhein lagi ngerjain thesis dan novel), dan udah coba benerin ke tempat service (bahkan outlet resmi Toshiba) pun ngga bisa. Hih! Sudahlah, daripada stress mending beli baru. Padahal usia Toshiba ini baru 3 tahunan, Toshiba sebelumnya aja kuat sampai 5 tahun (batre drop aja permasalahnya).

Spec yang Rhein inginkan untuk beli laptop antara lain:
  1. Ukuran laptop ngga besar, pilihannya antara 10"-11" supaya bisa masuk ke tas cangklong cewek yang biasa Rhein bawa sehari-hari.
  2. Ringan. Rhein suka nulis dimana-mana, jadi ni laptop pasti daily use yang dibawa kemana-mana.
  3. Pengin yang pas laptop dibuka, bisa langsung dipakai ngetik dengan loading sesebentar mungkin, nggak pake lama (apalagi sampai harus ditinggal mandi). Maksimum loading 1 menit lah. Gimana pun juga, kecepatan ide datang sebanding dengan kecepatan lupanya.
  4. Tuts keyboard bisa nyala. Rhein ini kalau tidur sukanya dalam keadaan gelap, tapi udah di tempat tidur pun masih suka ngetik-ngetik. Iya, ini alasan pemalas yang matiin saklar lampu aja malas jalan. Jadi laptop ini harus bisa digunakan untuk ngetik di tempat gelap.
  5. Baterai tahan lama. Laptop Rhein sebelumnya cuma tahan 2-3 jam tanpa charge, nggak puas. Gimana pun, kabel charger itu menambah beban & muatan dalam tas cewek. Apalagi kalau lagi butuh ngetik dan nggak ada colokan.
  6. Budget maksimum 6 juta.

Pencarian pun dimulai, search sana sini, ngumpulin brosur dari BEC, googling review ke mana-mana. Pas nemu yang ukuran kecil & ringan, spec ngga mumpuni. Spec mumpuni, ukuran dan berat nggak sesuai keinginan. Pusying lah. Cari laptop aja ribet apalagi cari suami. Hih! Naksir awal ke Asus, tapi dari segi harga dan spec kok masih ada merek lain yang lebih murah.

Kemudian, Rhein membaca buku biografi Steve Jobs dan terkena efek Distorsi Realitas Lapangan pencetus Apple tersebut. Jadilah, Rhein pengin punya Macbook. HAHAHA. Beruntung di ITB ada appstore yang bisa Rhein sambangi tinggal ngesot. Jadilah beberapa kali Rhein ke sana untuk nyoba-nyoba, nanya spec, ketahanan baterai, garansi, software-software (kan beda sama Windows yang biasa dipake), nyobain pake dari macbook yang dipajang, rempong banget lah baru nanya-nanya doang sampe si abang-abangnya hapal. Dan Juni lalu, sebagai hadiah untuk diri sendiri, Rhein memboyong senjata baru ini. Kasian ya, harus ngasih hadiah ke diri sendiri, nggak ada yang mau ngasih sih.



Dari ke-enam syarat di atas, hanya syarat ke 6 yang tidak terpenuhi. MAHAL! Harga pasaran saat itu 12juta, karena pakai kartu mahasiswa dan beli di appstore ITB, dapet diskon jadinya 11,2 juta. Lumayan.

Setelah 6 bulan pakai, begini kesan-kesan yang Rhein rasakan.
  1. Ukuran tipis dan ringan. Ini laptop hampir selalu Rhein bawa kalau keluar rumah. Selain untuk ngetik, Rhein juga biasa baca di iBooks kalau harus melalui waktu senggang di perjalanan. Jadi bawa-bawa ini kemana-mana no problem. Pakai tas cangklong cewek pun nggak kelihatan lagi bawa laptop.
  2. Sekali buka langsung bisa dipakai. BISA BANGET! Bahkan pernah ngitung kecepatan loading dari power start sampai bisa ngetik, cukup 15 detik sajah sodara-sodara. 
  3. Baterai tahan lama. IYA. Untuk pemakaian hanya ngetik dan browsing menggunakan wifi pernah mampu sampai 9 jam nonstop. Malah pernah hanya ngetik doang tanpa internetan bisa sampai 10 jam. Rhein ngecas tiap pagi, nggak terlalu lama sekitar 1 jam-an udah penuh, sekalian siap-siap ngampus. Pas pergi nggak perlu bawa charger dan bisa dipakai seharian. Malah kalau lagi jarang buka laptop, ngecas bisa 2 hari sekali. 
  4. Tuts nyala dalam gelap dan bisa diatur brightness tutsnya. Ini lumayan banget kalau dalam perjalanan di bis malam-malam dan musti ngerjain tugas. 
  5. Software-software. Banyak yang khawatir kalau pakai produk apple nggak compatible sama Windows yang biasa dipakai orang-orang, susah transfer data, dll. Sampai saat ini belum menemukan problem ini. Microsoft masih bisa digunakan dengan baik, terbukti dari komunikasi dengan editor yang pakai Windows lancar-lancar aja. Malah MS versi macbook ini banyak tambahan template-template yang mempermudah pengguna. Beli software di appstore mahal-mahal. Iya sih, kayak Adobe Photoshop yang harganya nyaris 1 juta dan di Windows banyak bajakannya. Padahal hari gini siapa sih yang nggak butuh photoshop buat ngedit muka? *Mbak...mbak.. muka itu dirawat, bukan diedit*. Tapi banyak juga kok software pengganti yang bisa didownload gratis di appstore. Emang performa nggak sebagus yang beli, tapi lumayan kalau untuk muka agak lebih cerah mah. Pastinya, software-software yang biasa free di Windows, banyak juga yang free untuk Mac, dan kompatible digunakan di keduanya. Selain itu, cara install dan uninstall software di Mac ini mudah banget (cocok untuk yang gaptek kayak saya). 
    apps yang Rhein pakai. Susah bajakan? Kata siapaaaa.. Ha..Ha..Ha..
       
  6. Storage dikit. Macbook Air 11" yang Rhein beli ini storage alias hardisk internalnya hanya 128 giga byte, beda jauh sama Toshiba sebelumnya yang 500gb. Iya sih, jadi musti rajin menghapus file nggak penting dan nggak bisa simpen banyak film. Tapi nggak masalah sih, ada hardisk eksternal dan fungsi utama laptop untuk kerja masih sangat mumpuni. Selain itu, Rhein juga jadi lebih selektif kalau mau install software, dulu di Windows kan segala apa aja diinstall padahal jarang dipake. Sekarang kalau nggak dipake tinggal drag ke trash (iya, gitu doang cara uninstallnya), kalau butuh ya download & install lagi aja.
  7. Kameranya bagus. Hihihi.. Setelah dibandingkan sama kamera laptop Toshiba lama, laptop adek (MSI, Asus, & ChromeBook Acer), kamera Macbook ini paling bagus baik untuk foto, video, maupun video call. 
    Contoh foto dan video
    video
  8. Bacaan. Banyak ebook gratis yang bisa didownload di iTunes dan dibaca di iBooks. Surga banget ini mah buat Rhein. Baca di laptop capek mata? Iya sih, tapi iBook bisa meminimalisir cahaya dengan setting seperti di bawah: 
    iBook
  9. Apalagi ya? Oh, mesin. Cepet panas kah? Untuk penggunaan hanya internetan dan ngetik, nggak panas, nggak ada suara apa pun dari mesin. Mesin mulai agak panas kalau Rhein pakai software iMovie (untuk bikin book-trailer) sambil internetan. 
Puas? Sampai saat ini Rhein puas banget dengan keberadaan Macbook Air ini. Memenuhi semua kebutuhan sehari-hari baik dari segi kerjaan dan senang-senang. Satu-satunya yang bikin kesel cuma masalah autocorrect yang pas ngetik sering berubah sendiri dan Rhein masih gaptek gimana cara non-aktifkannya. Rhein berharap usianya tahan lama, minimal 5 tahun atau sampai menghasilkan 10 novel supaya balik modal dan untung. Mahal banget soalnya bagi kantong mahasiswa dan penulis dengan royalti tak seberapa. Hahaha.

Sekian review curhatnya.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

wxrm mengatakan…
hayah review curhat, ini genre tulisan baru euy hahaha

btw, ini tulisan jd membuatku pengen mekbuk lg, ayo tanggungjawab!
hlga mengatakan…
dulu pengin bangt beli mekbuk. karena selain tahan banting juga nyaman dipake. cuma sayang sebelum beli eh ternyata kantor udah ngasih laptop lenovo buat kerja sehari-hari.

daripada mubadzir beli lagi mending manfaatin yang ada dulu. hehehe
ayatayatadit mengatakan…
Wuih mekbuk... Sayang sayah nggak pernah bisa nyaman dengan OSnyah.

Kampungan yagh?
wasesasegara mengatakan…
sudah 1 semester, gmn pengalaman interfacingny? udh bs moveon dr win? :9
Ulin Nuha mengatakan…
Itu yang MBA 11.Inch. Kalau yang yang 13.Inch apakah daya tahan baterainya jua sama? O iya, satu lagi. Apakah tombolny nyaman kalau id==dibuat ngetik.?

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …