Langsung ke konten utama

I'll Figure It Out

I always depressed while writing but feel happy in the same time. I don't know why.
Keunikan menulis fiksi adalah sumber informasi utama berada di dalam otak si penulis itu sendiri. Tidak seperti tugas karya ilmiah atau laporan kuliah yang sumbernya bisa dicari di google lalu kita menambahkan sana-sini sesuai analisis pemikiran sendiri. Kemudian, pembaca akan manggut-manggut mendapat informasi dan pemahaman baru. Tidak.

Sumber informasi utama fiksi ada di dalam otak si penulis, lalu dia googling untuk riset, baru tambah sana-sini agar tidak jauh beda dengan realita. Atau membawa pembaca masuk ke dalam universe yang penulis ciptakan dan membuat mereka percaya bahwa itulah realita yang ada. 

Dari pengalaman pribadi, dalam keadaan kepepet, Rhein sama seperti mahasiswa lain yang memiliki kemampuan super kilat membuat laporan kuliah dengan kecepatan mendapat informasi dan analisis yang bisa diargumentasikan. Argumen dengan siapa? Dosen atau teman-teman diskusi pastinya.

Sedangkan dalam menulis fiksi, gue nggak bisa seperti itu. Apalagi mengerjakan dalam semalam. Menguras isi imajinasi dan menyalurkannya dalam bentuk tulisan berkualitas yang mudah dipahami pembaca itu, butuh analisis dan argumentasi juga. Argumen dengan siapa? Well, seringkali gw kesal sendiri, "Damn you, characters! I must make my readers understand what you do, what you want, and your effort!". Atau terkadang gw berdebat karena mereka berlari terlalu cepat sedangkan kapastitas jemari untuk menulis nggak secepat imajinasi memutar kehidupan mereka.  

Then, I'm depressed. Until I saw this pic.


Yeah, come on... I've felt depressed while writing four novels before. Just keep writing...


ps: please be patient, my dear editor..

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Riski Fitriasari mengatakan…
yap betul... keep writing and foghtong.. Semangat ya Rhein.. :)

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …