Langsung ke konten utama

Finally, CoupL(ov)e Published!

Novel CoupL(ov)e lahir dari kebosanan saya di kantor di awal Januari 2011. Bosan, tercetus ide, dan menulislah saya. Setelah membuat plot dan karakter, awalnya saya hanya memberikan hasil tulisan berupa prolog, bab 1, dst ke beberapa teman, meminta komentar mereka. Lama kelamaan, saya tercetus untuk mempublikasi secara online berkala. Dibuatlah weblog couplove.rheinfathia.com. Secara rutin, setiap hari kerja, antara pukual 9-10 pagi, saya memposting hasil tulisan novel ini di blog. Awalnya, hanya beberapa teman dekat dan pembaca blog yang baca. Lama-kelamaan, karena promosi sana-sini dan hasil kicauan teman-teman saya juga, weblog CoupL(ov)e makin terkenal. Traffic menunjukkan banyak sekali yang datang ke weblog tersebut dan membaca ceritanya. Saya seneng banget dan makin semangat nulis.
 
Banyak pembaca yang ngasih komentar atau memburu-buru saya untuk cepetan update kalau terlambat. Hihihi... Saya masih inget gimana excitednya tiap mau posting cerita terbaru dan menunggu komentar teman-teman. Awalnya, saya sempat khawatir akan plagiarisme. Bagaimana kalau novel CoupL(ov)e ini dijiplak? Karena itu saya siasati hanya mempublish 5 bab dari total kurang lebih 20 bab cerita (Iya, banyak banget totalnya). Lagipula, saya percaya tiap penulis punya "style" mereka masing-masing, every writer has finger print. Jadi, kalau pun ada yang mencontek ide cerita, pasti "rasa" yang sampai ke pembaca pun berbeda. Jadi, saya pun tetap menulis novel CoupL(ov)e di blog. Selain karena ingin mendapatkan feedback dari pembaca, saya juga senang ternyata ceritanya bisa menghibur para pekerja kantoran, mahasiswa, atau siapa pun di waktu senggang aktivitas mereka. Well, berbagi selalu menyenangkan, bukan? Meski itu sepotong cerita.
 
Kurang lebih 4 bulan, CoupL(ov)e tamat, versi online pun saya stop. Saya mencoba memberikan draft tersebut pada rekan editor dan beberapa first reader untuk dibaca secara keseluruhan. Mereka cukup memberi insight, saran, kritik, dan komentar yang benar-benar membangun agar draft ini menjadi lebih baik. Saya juga minta tolong teman blogger Aldriana Amir untuk membuatkan cover novel online tersebut. Supaya lebih terasa beneran novel. Hihihi... Selanjutnya apakah langsung dikirim ke penerbit? Hohoho, jangan senang dulu, masih ada revisi!
 
Seharusnya, revisi bisa lebih cepat. Sayangnya, lagi-lagi masalah sibuk di kantor menjadi alasan. Saya sering menyempatkan diri untuk merevisi novel ini, pelan-pelan, di sela waktu yang ada. Namun tetap saja, susah beresnya. Hehehe... Sampai pertengahan 2012, setahun lebih CoupL(ov)e terbengkalai dan belum ketahuan nasibnya. Bahkan nyaris tersalip oleh novel saya yang lain, Seven Days, yang menjadi juara pertama di ajang lomba novel Qanita Romance by. Penerbit Mizan. Duh... Nasibmu, Nak.. :D. Meski begitu, saya senang karena traffic pengunjung weblog couplove.rheinfathia.com tetap tinggi meski saya sudah nggak update nulis. Mungkin ada yang kesasar. Hihihi...
 
Usai resign dari kantor, saya memutuskan ngebut menyelesaikan revisi CoupL(ov)e. Bulan November 2012, saya kirim ke penerbit Bentang Pustaka. Finally, fiuuhhh... Banyak-banyak berdoa supaya 3 bulan kemudian dapat berita terbaik. Biasanya, penerbit akan mengabarkan naskah novel diterima atau tidak dalam jangka waktu 3 bulan. Namun ternyata, jeng! Jeng! Sembilan hari kemudian saya mendapat jawaban bahwa Bentang Pustaka akan menerbitkan CoupL(ov)e! Kyaaaa...!! Ini penerimaan novel tercepat yang pernah saya terima. Satu mimpi saya pun terwujud lagi, bisa satu penerbit bareng penulis favorit saya, Dewi 'Dee' Lestari.

Akhirnya, penantian saya dan pembaca (kalau ada :p) mulai berakhir.
 
From online novel become a real novel. Please welcome,
 
CoupL(ov)e
a Novel by. Rhein Fathia
 
 
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Yang Berbeda: Orientasi Seksual dan Ras

Suatu kali di kelab malam, lantai dansa selalu menjadi tujuan utama saya untuk bergoyang. Lampu gemerlap, musik berdentam, dan di antara kerumunan saya melihat seorang perempuan rupawan dengan rambut indah panjang. Ia mengerling, mata kami bertemu. Tanpa ragu, gadis itu menarik saya untuk menari berpasangan. Beberapa pria melihat kami begitu asyik dan tertarik untuk mendekat, perempuan itu dengan setengah malas menghalau tak berminat. Seiring musik menghentak, kami berdansa makin semangat. Kami tertawa, saling sentuh menggoda, sesekali gadis cantik itu memeluk saya, tangannya serta merta meraba pinggul dan paha. Dengan alasan berpose selfie, pipi dan bibir saya pun diciumnya. Sampai ketika jemarinya berkelana ke bagian intim, saya merengkuh kedua pipinya dan berkata, "I'll go buy drinks. Okay?" 
Melanjutkan postingan sebelumnya, Australia tidak hanya menyuguhkan cerita tentang perbedaan agama. Kali ini saya akan bercerita tentang perbedaan lain yang jarang ditemui selama…