Langsung ke konten utama

Backpacking Jakarta Bromo (part-2)

Tim #4Bromo (ki-ka): Anne, Rama, Indra, Rhein

Baiklah, mari kita lanjut cerita petualangan tim #4Bromo. Yang belum baca, silakan scroll web ini ke bawah ya... :)


Hari 3

Setelah menjalani tidur tidak nyenak karena cuaca Bromo yang teramat dingin, pukul 03.30 kami dibangunkan oleh supir Jeep yang akan mengajak kami menunju Penanjakan untuk melihat sunrise. Kami cepat-cepat cuci muka dan memakai perlengkapan penghalau dingin lebih lengkap seperti sweater tebal, kupluk, dan syal. Saat melakukan perjalanan menuju Penanjakan, ternyata ada banyaaaakk jeep lainnya lho. Padahal kami kira Bromo sedang sedikit pengunjung karena suasana lingkungan sekitar tampak lengang sehari sebelumnya. Jeep melaju menuju kaki gunung dan selanjutnya kami harus mendaki sendiri! Alamaaaakk... Kami bertiga, para wanita mulai menurun staminanya. Ada yang kram, sesak napas, Rhein sendiri mual. Sepertinya semua kekurangan energi dan tubuh 'terkejut' setelah bangun tidur malah mendaki gunung. Kesalahan kami juga tidak sempat sarapan bahkan hanya sekedar minum air putih. Tips sebelum mendaki ke Penanjakan, minumlah air putih atau teh manis untuk asupan energi.

Saat akan mendaki ke Penanjakan ini, ada banyak penduduk yang menawarkan kuda agar kita tidak capek. Padahal yaaaa... nggak ngefek! Karena kuda-kuda ini hanya akan mengantar sampai kaki tangga. Dari kaki tangga, kita harus naik tangga lagi sampai di puncak, jalan kaki! Weleh...weleh... Untungnya kami semua memang sepakat ingin benar-benar merasakan mendaki Penanjakan. Ternyata sodara-sodaraaa... Eng ing eng....!! Rasa lelah saat mendaki benar-benar terbayar oleh indahnya pemandangan kawasan Bromo. Sumpah keren baangeeeeeettt! Subhanallah... Rasanya seperti melihat lukisan di atas kanvas tanpa batas. Sejauh mata memandang, lekuk pegunungan, jurang, dan kawah Bromo yang mengepul benar-benar menakjubkan. Belum lagi arak-arakan awan yang mengalir bak aliran sungai berwarna putih di bawah pandangan. Nggak nyesel deh jauh-jauh dan capek perjalanan dari Jakarta ke Bromo. Suasana dan pemandangan yang didapat worth it banget! Di Penanjakan ini ada banyak yang jual minuman hangat juga, tapi kebanyakan dari mereka bukan dari desa Cemoro Lawang, melainkan desa lain di balik gunung. Huwwiiihh... Canggih ya. 

Setelah puas mengabadikan Bromo dari Penanjakan, kami turun gunung dan kembali ke mobil Jeep. Oiya, yang menyenangkan selama di Bromo ini, waktu terasa berjalan begitu lamaaaa... Kami menikmati pemandangan rasanya lama dan puas, tapi ternyata baru jam 06.30. Beda banget sama Jakarta, waktu terasa pedang yang menusuk tulang punggung, harus lari atau nanti tertusuk. 

Selanjutnya, jeep membawa kami ke padang pasir nan tandus yang merupaan bagian dari Taman Wisata Bromo. Beruntung bagi kami karena di Bromo sempat hujan, jadi kawasan padang pasir kaldera ini tidak terlalu berdebu dan panas. Konon menurut penduduk setempat, kalau musim kemarau, kawasan ini sangat berdebu karena pasir berterbangan. Sehingga siapapun wajib menggunakan masker dan kacamata. Sesampai di kaldera, kami disambut para ksatria berkuda alias penduduk setempat yang lagi-lagi menawarkan kuda untuk naik ke kawah Bromo. Nah, kami dikasih tips nih sama bapak pemilik rumah tempat kami menginap. Kalau ditawarin kuda, jangan mau dulu karena mereka akan menawarkan harga mahal, 100 ribu bolak balik. Jalan dulu selama beberapa puluh meter, niscaya harga kuda akan semakin turun. Hohoho...

Akhirnya, kami sepakat untuk jalan kaki saja menuju puncak kawah Bromo. Karena naik kuda pun agaknya percuma, hanya sampai kaki tangga. Selanjutnya sampai puncak ya jalan sendiri. Daaaann.. lumayan ya, bo... 2 km jalan kaki dan nanjak! Uuugghh.. Kuat..kuat... Medan perjalanan menuju puncak kawah nggak terlalu berat sebenarnya. Hanya saja karena teksturnya adalah pasir, jadinya setiap melangkah pasti kaki sedikit terbenam. Jadi agak terasa lebih berat dibanding jalan di area dataran yang keras. Apalagi nanjak. Hohoho... Rhein sendiri sudah pasti mengandalkan si pacar yang memang 'anak gunung' sejak SMA. Jadinya dunk, yaaa... Rhein seperti nenek-nenek yang dituntun untuk melangkah naik ke puncak kawah. Tapi ya, udah jauh-jauh dari Jakarta ya harus bener-bener total menjelajahi setiap kawasan Bromo. Meskipun yaa... Jujur, CAPEK!
Lagi-lagi, rasa lelah karena jalan kaki ini terbayar dengan indahnya kawasan Bromo dari puncak kawah. Sejauh mata memandang adalah padang pasir yang dihiasi arakan awan di atasnya. Pokoknya keren, deh! Speechless. Selain mengagumkan, ada juga yang agak mengerikan. Melihat ke bawah kawah seperti membayangkan lubang tak berujung. Ditambah lagi kawasan tersebut cukup sempit dan nggak ada pembatas untuk pengaman. Jadi harus hati-hati, nggak boleh kebanyakan tingkah. Sekali kepeleset, masuk ke kawah, ya wassalam... 

Puas menikmati suasana Bromo dari puncak kawah, kami pun turun. Nah, dari saat turun ini kami merasa kaki udah mulai nyut-nyutan. Hahaha.. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kuda, dengan perasaan agak takut karena semua kuda di wilayah Bromo adalah kuda jantan yang mana pastinya lebih garang. Setelah tawar menawar, kami berhasil mendapatkan harga IDR 20.000 / kuda. Huhuuuyy... Setelah sampai ke tempat Jeep, sarapan seadanya dari penjual-penjual yang ada di sana, kami pun kembali ke rumah penginapan. Hati senang, puas, dan pengen lagi. 

Selesai bersih-bersih, mandi dengan air sedingin freezer (lagi), dan packing, pukul 10.30 kami pulang menggunakan bison yang kemarin kami gunakan. Bersiap kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan di bison, kami semua tidur lelap. Hahaha.., Baru terasa capeknya mendaki gunung, yaaa... Pas bangun, sudah sampai lagi di Probolinggo. Kami berpisah dengan duo backpacker teman baru yang akan ke Yogyakarta. Seneng banget deh ke Bromo ini. Dapet temen baru, sharing banyak hal, plus dapet pemandangan dan suasana yang bener-bener mengasyikkan untuk refreshing. Bener-bener pengen lagi!

Dari Probolinggo, kami kembali ke Surabaya untuk naik kereta Gumarang menuju Jakarta. See you again, Bromo. Thanks for giving us a supergreat memoir.

Ini koleksi foto-fotonya:











Duo Backpacker teman baru yang senasib (ki-ka): Sultan & Meta. Nice to know you :)



KOMPLIT!


Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Arian Silencer mengatakan…
gw juga pengen dong diajak :))
Hans Brownsound ツ mengatakan…
:c
yang ini malah bikin envy,
jadi jalannya sama pacar?
gue jalan kmana2 selalu sendiri *nyakardinding*
btw tipsnya gokil rhein,
gue praktekin ntar pas udah nyampe bromo. hehehe
ir2brothers mengatakan…
makasih ya review perjalannya, setidaknya sy pny gambaran nh buat perjalanan nanti ke bromo,,,

btw foto sunrisenya koq ga ada?, penasaran soalnya :)
HM Zwan mengatakan…
uwaaaaa seru bangetttt...
salam kenal....
bromo itu benar2 bikin seru,apalge perjalanannya :D
HM Zwan mengatakan…
uwaaaaa seru bangetttt...
salam kenal....
bromo itu benar2 bikin seru,apalge perjalanannya :D
Anonim mengatakan…
Ini jalan jalan nya asyik. Bareng suami atau pacar ? kalau pacar ealah kok ya gak malu dengan jilbab nya. Its ok di coba tidak negative thinking tapi bukan nya sebelum berjilbab udah tau banyak hal bahwa gak boleh pacaran, gak boleh jalan ama yang bukan muhrimnya dll dll. Inilah yang memalukan Islam. Orang orang seperti anda di luar sana begitu banyak bak sampah di lautan mengurangi indah nya Samudera ilmu Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Salam koreksi diri.

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …