Langsung ke konten utama

Aku Seneng Pacaran sama Kamu

Aku seneng pacaran sama kamu dengan usia kita yang nggak beda jauh. Kamu satu tahun di atasku, membuatku hormat dengan semua kedewasaan, kebijaksanaan, dan kesabaran kamu dalam ngemong aku. Namun juga tetap membuatmu menghargai aku dengan tidak bersikap ngatur ini itu ataupun meremehkan dan menganggapku anak kecil.

Aku seneng pacaran sama kamu dengan kondisi akademis yang sama. Mahasiswa semester akhir yang sedang diberi anugerah terindah yang pasti dialami setiap mahasiswa S1 yaitu tugas akhir alias skripsi. Membuat kita bisa saling merasakan betapa crowded, stuck, worry, under pressure, sampai nangis segala. Okay ini lebay, yang nangis cuma aku. Dan dibalik itu semua, aku menikmati saling supportnya kita.

Aku seneng pacaran sama kamu karena kamu anak IPS. Meski obrolan sering nggak nyambung, tapi aku benar-benar merasa bebas ketika curhat, mengeluh, memaki, sambil nangis-nangis tentang betapa sulitnya belajar fisika meski itu hal paling gampang sekalipun. Tidak perlu khawatir kamu akan berkata "Masa' hal gampang kayak gitu aja nggak ngerti, sih?!". Okay, my last men did it, make me scare and feel I'm the stupidest girl in the world.

Aku seneng pacaran sama kamu meski kita long distance. Cinta berat diongkos kata orang. Well, sebenernya nggak gitu juga kalau bener-bener mau dihitung. Pacaran jarak deket juga berat diongkos karena hampir tiap hari ketemu dan ujung-ujungnya nongkrong ngobrol-ngobrol sambil makan, apalagi kalau ditambah sering jalan-jalan. Dan kita beruntung dengan privider yang menawarkan tarif murah hingga masih tetap bisa komunikasi. Ketemu setahun 2-3 kali, wajar lah ya.. Yang terpenting, hemat waktu. Kamu sibuk dengan duniamu, pekerjaanmu, semua aktivitas yang mengembangkan potensimu sendiri tanpa perlu mikir "ntar musti jemput yayank pulang kuliah" atau "yayank minta anter ke sini, situ, sono.". Begitu pula denganku. Masing-masing dari kita sama-sama berkembang tanpa saling mengganggu.

Aku seneng pacaran sama kamu dengan kondisi kehidupan kita yang sama. Status mahasiswa dengan kondisi keuangan pas-pasan membuat kita sama-sama rajin mencari penghasilan dari pekerjaan freelance dan serabutan. Dari situ, kita sama-sama bisa melihat usaha gigih dan sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri, minimal. Hal-hal kecil yang nantinya menentukan hal besar di masa depan.

Aku seneng pacaran sama kamu karena kita sama-sama yakin, kalau kita ini pasangan hebat.
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

crazy lil outspoken girl mengatakan…
waw......gak tau kenapa..sedih baca post ini...hehe..mungkin krn dl gw sempet LDR daaan gak berhasil..jd curcol kan
anyways...semoga awet yah sm pacarnyaaa! :D
Sigit Jaya Herlambang mengatakan…
hahaha... LDR... Long Di*k Reduction....
Krisna Reqka Pradana mengatakan…
wah..mbak hebat yah bisa kuat LDR gitu... salut deh..

jadi ikut seneng bacanya...langgeng terus ya...
rhein fathia mengatakan…
@Crazy lil:
hehe.. makasih ya.. amin, semoga kami awet.. :)

@sigit:
itu mah elu kalee.. :D

@Krisna:
Amin.. makasih doanya.. ^_^

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …