Langsung ke konten utama

Trio Miliarder

I
tu nama grup WhatsApp kami, meski belum ada salah satu dari kami yang menjadi miliarder. Namun nama termasuk doa, kan? Hehe...

What friendship means for you? Who are they? 
Saya yang remaja mungkin akan menjawab, teman itu siapa saja yang bisa diajak hang out sepulang sekolah atau saat weekend. Teman itu yang bisa ngasih jawaban pe-er di sekolah atau contekan saat ujian. Saya yang mulai memasuki dunia kerja akan menjawab, teman adalah yang saya temui tiap hari di kantor, yang saling support akan carrier-path, yang saya ajak obrol tiap hari baik dengan atau tanpa tatap muka. Tiap orang punya definisi dan arti masing-masing tentang teman dan sahabat. Mereka yang selalu ada saat kamu menangis. Mereka yang jadi bridesmaids kamu. Mereka yang merayakan tiap fase dalam hidup kamu.

Sayangnya, seseorang yang kamu anggap teman atau sahabat, belum tentu menganggap hal yang sama ke kamu.

Friendship, sama seperti jenis relationship lain, punya kisah ujiannya masing-masing. Sama juga seperti jenis relationship lain, manusia punya kecenderungan untuk merasa nyaman dan percaya pada mereka yang stay and support. Karena stay and toxic juga bahaya, toh. 

Some quotes said you will see true friends at your lowest point. 

Apakah hidup kami bertiga mulus-mulus saja? Oh tentu tidak. Apa kami pernah berdebat dan bertengkar? Oh tentu pernah. Dari yang lama lulus kuliah, pengangguran, pernikahan (kecuali saya), pertengkaran keluarga, dan segala permasalahan lain yang muncul dalam hidup, we stick together. Bahkan ketika saya berada dalam fase menjadi manusia menyebalkan because the world hit me hard and my other friends stabbed and hurted me so bad, dua orang ini tetap bertahan. They helped me a lot.

Saya pernah nonton TED yang meneliti tentang hal-hal apa yang diinginkan manusia saat mereka sudah tua (dan tinggal menunggu ajal). Penelitian berlangsung selama puluhan tahun dan hasilnya cukup mengejutkan. Di akhir hidup manusia, yang kita inginkan bukanlah uang yang banyak, harta benda, investasi, kepintaran, kecantikan, atau bahkan kesehatan. Yang diinginkan adalah healthy relationship. And yes, we can't build a relationship in one night. You can pay a nanny but you can't buy a friend. It science, and I better believe it. 

Mungkin ada kalanya kita sejenak mengambil jeda. Di antara gerak hidup mengejar kemapanan dunia yang diukur melalui harta dan investasi apa yang harus kita punya. Ambil satu porsi dalam hidup kita, menjalin hubungan baik dan sehat yang apa adanya.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…