Langsung ke konten utama

Rentang Cerita: Usia 20-30 Tahun

Tebak Usia? :D

Hari ini ulang tahun saya yang ke 25++. Haha... Konon orang bilang, hidup dimulai sejak usia 30 tahun. Maka kali ini, saya ingin berhenti sejenak, berbalik badan, dan melihat hidup saya saat usia 20an tahun. Konon orang bilang (lagi), usia 20an tahun adalah masa-masanya eksplorasi, waktunya belajar dan membuat banyak kesalahan. Momen petualangan! Saya ingin menuliskan beberapa daftar petualangan apa saja yang sudah dijalani selama kurang lebih 10 tahun ini. 

Kesehatan.
Alhamdulillah sehat. Mengalami berat bada dari yang nggak bisa tembus 50 kilo sampai lebih dari 60 kilo (wth!) dan sekarang stabil antara 54-55 kilo. Olahraga tiga puluh menit setidaknya 5 kali seminggu, makan buah tiap hari, dan tak lupa krim mata, sis! Mari hindari penuaan dini.

Study akademis. 
Layaknya standar generasi milenial, saya bisa mengecap pendidikan hingga bangku kuliah dan lulus S1 dari Departemen Fisika Universitas Indonesia. Kemudian melanjutkan S2 di Master of Business Administration Institut Teknologi Bandung. Tak lama setelah itu mendapat sertifikat beberapa short-course dari University of Sydney.

'Menonton' diri saya yang rela begadang 3 bulan di Observatorium Bosscha dan kelimpungan mau nangis mengerjakan skripsi, nongkrong di kampus hingga tengah malam dan menyebar kuesioner demi menyelesaikan thesis, lalu ambil kelas malam di musim dingin yang menusuk tulang untuk berada di kelas yang full english dan perlu usaha keras bagi saya mencerna omongan dosen serta mengerjakan tugas. Kesimpulannya, saya ini agak-agak masokis soal pendidikan. Hahaha.. Saya suka belajar, saya suka suasana akademis, saya suka berdiam lama di perpustakaan kampus untuk membaca dan mengerjakan tugas. Saya suka mencoba banyak soft-skill yang membuat otak bekerja. Masih mau lanjut kuliah, Rhein? Mau sih... Tapi... :D

Hard-Skill.
Saya masih nggak bisa masak, menggambar, dan menjahit. Tiga skill yang saya coba pelajari dan  belum berhasil sampai sekarang. Selain itu, saya bisa mengoperasikan teleskop, menulis, dansa latin, muay thai, nyanyi, main ukulele, membuat tas kulit, scuba diving, mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing, public speaking, hmm apalagi ya? Oh, stay alive while feeling depressed and lonely! Ini skill banget, lho. Haha.. Sampai saat ini nggak semua skil tersebut saya kerjakan, tapi masih bisa kalau diminta mengerjakannya lagi. Hard-skill penting bagi saya agar tubuh tetap aktif dan bermanfaat untuk menjalin relasi.

Sejak saya kecil, orang tua paham kalau saya ini tipikal manusia pembosan. Beranjak dewasa pun sama saja, saya suka sekali mencoba hal baru yang bagi orang lain tampak random. Mau mencoba hard-skill apalagi, Rhein? Saat ini sedang belajar fotografi dan videografi standar untuk channel youtube. Hehe..

Karir. 
Ini beragam banget. Setelah tiga puluh tahun, cita-cita saya menjadi astronot belum tercapai (#yamenurutlo). Beberapa karir yang pernah saya jajal dalam rentang 10 tahun terakhir ini: Astronom, internet marketing, editor buku, penulis, pemilik bisnis UKM dan online-shop, guru Astronomi, equity trader, waitress restoran, au pair (baby sitter), room attendant (baca: tukang kosek WC hotel). 

Random dan banyak banget kan ya? Bagi para pencari profesionalitas karir, saya ini sering dilihat sebagai produk gagal. Nggak fokus. Nggak ada planning. Nggak ada identitas. Kacau. 

But, I never give a f*ck about other people saying or judgment. Sepuluh tahun terakhir adalah masa ketika saya punya banyak sekali keinginan dan cita-cita. Selama sepuluh tahun ini juga, meski terlihat random dan melewati berbagai kegagalan, banyak sekali mimpi dan cita-cita yang terwujud, bahkan dikasih bonus sama Tuhan. Pernah ada kekhawatiran tentang bagaimana saya bisa hidup mapan kalau nggak ada karir yang pasti. Hal ini nggak hanya muncul dari diri sendiri tapi juga orang tua dan teman-teman terdekat. Usia bertambah dan saya harus memilih fokus pada satu hal. Tapi 'menonton' diri saya sepuluh tahun ke belakang, yang ternyata baik-baik saja meski agak random, I realised, "Hey, I'm okay. I did great." Perlahan kekhawatiran itu meluruh. Saya percaya saya akan baik-baik saja juga di tahun-tahun ke depan. 

The important things are; I know what I want, I make progress to reach it, and I love to do it. 

Keuangan. 
Terus Rhein, kamu random gitu gimana cari duitnya? Saya bersyukur banget punya ibu yang mendidik cara mengatur finansial sejak saya kecil. Meski sejak lulus S1 nggak pernah minta uang lagi sama orang tua untuk biaya hidup, kondisi finansial saya baik-baik saja. Alhamdulillah selalu dicukupkan. Kondisi saat ini; utang ada, cicilan ada. Tapi selama 10 tahun ke belakang saya juga banyak belajar tentang manajemen keuangan, punya aset, saham, tabungan, dll. Cukup lah untuk perempuan lajang seperti saya.

Ada beberapa hal yang saya aplikasikan dalam hal finansial selama sepuluh tahun ini.
1. Jangan ragu berinvestasi untuk: pendidikan, kesehatan, dan pengalaman.
2. You'll be rich not because of your income or outcome, but how you manage them.  
3. Manfaatkan sumber daya yang dimiliki. 
4. You better work, bitch! (Yes, Britney!)
5. Zakat sedekah nggak boleh lupa. 

Target financial freedom kapan, Rhein? Usia 40 tahun, tapi belum kepikiran mau gimana. Hahaha.. Ya udahlah ya, nanti juga ketemu jalannya. Saya kan random jadi suka ujug-ujug aja cita-citanya tercapai.

Asmara.
Pacaran 2 kali, udah putus. Punya affair dan flirting sana-sini, entah berapa kali nggak ngitung juga. Diajak nikah pernah, ditipu juga pernah. Meninggalkan dan ditinggalkan juga iya. Intinya sih: seems like relationship is not my thing yet. Kok gitu, Rhein? Ya pilihan hidup aja, sih. Saya malah menyadari, potensi saya meroket dan bebas mengeksplor diri sendiri untuk menggapai cita-cita justru setelah putus dari pacar terakhir. Saya masih ingat 2 kali nolak ajakan nikah dari mantan pacar dengan alasan, "Saya mau lanjut kuliah dan tinggal di luar negeri dulu." And it happened! 

I learn to make a deal with life, that sometimes I need to let go something to get what I want or what I need or something better. 

Ya udah lah ya, hidup saya sudah cukup bahagia. Kalau percintaan juga bagus, nanti hidup terlalu sempurna malah dicerca netijen #EH. Menyesal nggak, Rhein? Jomblo terus? Nggak. Hahaha... Kalau dulu ada anekdot yang bilang cewek lajang makin tua makin depresi nyari jodoh dan akhirnya nyari 'yang penting cowo', saya kok merasa kayaknya makin picky. 

I want to build a healthy relationship with someone, who I can live without him and he can live without me, but we choose to stick into each other no matter what our condition. Of course we will annoy each other, bother each other, hurt each other, but we will support each other and struggle together. I want to be with someone who understand that life will be hard sometimes, then in every hard time we can talk and figure everything out together. Beacuse healthy relationship could be build if we can talk about the things that bother us. That's mature enough to start a relationship. 

Mentalitas.
Hmmm.. Sepuluh tahun cukup untuk membentuk dan mempengaruhi pola pikir dan mental seseorang. Saya pernah mengalami yang namanya rendah diri, anxiety, ptsd, stress, depresi, overthinking, unworthy, you named it. Makin kesini (makin tua usia saya maksudnya), saya menyadari bahwa semua orang akan mengalami hal-hal tersebut dalam hidupnya berulang kali. Yang perlu kita lakukan adalah how to control and have a deal with them. Sebenarnya problem mental itu sumbernya diri sendiri, the 'dark side'. Saya percaya tiap manusia punya 'dark side' yang kita semua struggle menghadapinya. Bahwasanya pepatah 'perang paling hebat adalah melawan diri sendiri', itu benar adanya. Dan perkaranya bukan siapa yang menang atau kalah, tapi bagaimana bisa berdamai. Karena bagaimana pun, 'dark side' tetap bagian dari diri kita. 

Memasuki usia ke 25++ ini (LOL), saya merasa secara mental, I know I will struggle but I know I can handle it. I don't want to push myself to chase happiness anymore. Kalau sedih ya nggak apa-apa saya murung dan nangis. Kalau marah, ya ngomel (tapi tetap beralasan logis). Kalau senang, saya akan menikmati present-time benar-benar. Saya juga mulai mengurangi aktivitas yang kalau saya 'tonton' sepuluh tahun ke belakang, ternyata buang-buang waktu. Contohnya seperti; komplain tanpa aksi solutif, being perfect, takut gagal, try to please everybody, mikirin banget pendapat orang lain, dan self-doubt. 

Friendship.
Trust me, adulthood friendship is complicated. Saya mencoba mempertahankan satu prinsip pertemanan selama sepuluh tahun terakhir: be kind. Tapi ternyata manusia itu lucu. Ada yang nggak suka kalau kita baik hati. Ada yang memanfaatkan ketika kita baik hati. Ada teman baru yang ternyata bisa pengertian banget. Ada teman lama yang berubah jahat melebihi Thanos.

Sepuluh tahun, orang datang dan pergi. Saya bersyukur punya banyak kenalan, tapi juga punya circle kecil sebagai support system. Dan tetep kok, saya akan pegang prinsip itu sampai bertahun-tahun ke depan. Be kind. Because my attitude defines who I am. Your attitude define yours.
Dear friend,
I want to be someone who can make you feel better.
Maybe I can't make you happy. Happiness seems hard to achieve nowadays. We tend to set a high bar for happiness lately, don't we?
Maybe I can't solve your problem. Simply because I don't know how. 
Maybe I can't make you smile. Because if you sad and cry, seems like I'll cry as well.
But at least, I wish I can make you feel better. 
With my present, my support.
I will listen to you. 

Target dan rencana masa depan.
Saya punya. I prefer to talk about these with them who know me better; about my issues, my struggle, my tears behind my smiles. Because after ten years, I learn that most people just don't care or want to judge.  

Bocoran salah satunya, rencana saya sejak lama adalah membuat vlog tips-tips menulis. Simply because I love to share my experience and wish it could be a positive thing for other people. Doakan saja bisa rajin dan rutin. 


Selamat ulang tahun ke-31, Rhein Fathia. :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Citra Rizcha Maya mengatakan…
Selamat ulang tahun Rhein. Semoga usianya berkah. Menikmati membaca tulisannya. Ditunggu vlog tips menulisnya ya.
rhein fathia mengatakan…
@Citra:
Makasih udah mampir baca dan untuk doanya, Citra. Kamu juga keep writing ya! :)
Keindahan Senja mengatakan…
Waw keren
Keindahan Senja mengatakan…
Hbd rhein semoga semakin sukses.
Rd mengatakan…
Dirimu di usia ini, jauh melampaui saya di usia segitu. Keren! Dan ikutan bangga punya temen setangguh & sekaya dirimu, kaya akan pengalaman2 yg macem2.

Smoga dirimu makin sukses yaaa
rhein fathia mengatakan…
@Keindahan Senja:
Makasih, kak Nash

@Rd:
Aamiin! Makasih om. Semoga doanya berbalas kebaikan untuk om juga yaa...
Ninka Melia mengatakan…
Hbd ka rhein btw aku pgn bgt buku novel coupl(ov)e cr dmn2 ga ketemu :(

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…