Langsung ke konten utama

Kartini Zaman Now: Tambah Ilmu di Sela Waktu


Dalam memperingati hari Kartini, saya berencana membuat tulisan tentang pembahasan dua buah buku yang isinya mengulik topik perempuan. Buku "Sarinah" karangan Presiden Pertama RI, Soekarno, dan buku "Perempuan" karangan M. Quraish Shihab. Kedua buku yang membahas perempuan dari sudut pandang seorang negarawan dan agamawan. Namun apa daya, pembahasan ini yang awalnya rencana berakhir menjadi wacana. Hahaha...
Alasan saya sangat tipikal: sibuk #kibasjilbab. 

Maka, saat ini saya hanya ingin sedikit berbagi sekaligus curhat tentang pandangan saya tentang menjadi salah satu Kartini zaman now. Kita mengenal Ibu Kartini sebagai sosok yang haus akan ilmu. Beliau selalu ingin belajar, berjuang untuk mendapatkan hak yang setara akan keilmuwan, dan tidak peduli betapa sulit kondisi saat itu, beliau ingin perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan lelaki untuk mendapatkan hak belajar.

Bagi saya, perjuangan beliau perlu dilanjutkan meski dengan hal-hal sederhana. Tentu perempuan Indonesia masa kini sudah punya banyak kesempatan dalam mengembangkan potensi mereka sampai-sampai sibuk sekali bahkan mungkin ada yang sampai tidak peduli dengan dirinya sendiri. 'Tidak peduli' yang ingin saya sorot di sini adalah tentang kontinuitas asupan ilmu bagi perempuan. Seberapa banyak dari kita yang tetap belajar usai lepas dari bangku kuliah? Bekerja di kantor, mengerjakan proyek, mengasuh anak, menurut saya merupakan contoh mengaplikasikan ilmu. Kemudian jika kita terus 'memberi' manfaat pada sekitar tanpa adanya asupan yang cukup, ibarat tumbuhan, kita bisa layu. 

Saya pernah ada di situasi seperti itu. Ada perasaan bangga ketika bisa mengaplikasikan apa yang pernah saya pelajari di kuliah dalam ranah pekerjaan, tetapi tambahan ilmu yang saya dapat tidak terlalu banyak. Paling hanya berkutat di situ-situ saja. Kemudian saya berpikir bahwa yang bertanggung jawab atas isi kepala saya adalah saya sendiri. Ibarat kalau lapar, saya orang pertama yang akan bergerak mencari makanan. Sebagai perempuan Indonesia modern yang termasuk sedikit cemas banyak rindunya sedikit sibuk banyak kerjanya, ada dosis harian yang selalu saya coba penuhi agar asupan ilmu baru selalu mengisi kepala.

Menonton 1 Tayangan TED Talk

Saya bukan termasuk orang yang suka berlama-lama nonton. Ketika orang-orang keranjingan menonton vlog di youtube, saya kudet dan bingung apa asiknya nonton aktivitas orang lain? Namun ketika adik menunjukkan TED, saya langsung tertarik. Durasi TED tidak terlalu lama, paling antara 10-20 menit. Waktu yang cukup untuk menonton sambil berendam air hangat di bath-up. TED memiliki banyak topik dan pembicara yang beragam serta menarik. Oh, satu hal yang saya suka dari TED salah satunya adalah mereka menampilkan fakta dan data. 

Membaca 1 Artikel New York Times


Sejak dibelikan tablet oleh adik dan mendownload apps NYT, saya mewajibkan diri sendiri untuk membaca 1 artikel dalam sehari. Mengapa NYT? Karena kecocokan konten aja sih, untuk saya. Pilihan bacaan luas mulai dari politik, budaya, olahraga, lingkungan, bisnis, seni, dll. Penulisan artikel yang runut dan mudah dipahami. Yang pasti, nggak ada gosip lambe (seriously, darling, saya yakin bu Susi dan bu Sri Mulyani kerjanya nggak ngikutin gosip tiap hari). Biasanya sih saya baca lebih dari 1 artikel karena tulisan di sana banyak yang menarik. Selain itu, apps NYT di juga nyaman banget diakses.

Membaca 10 Halaman Buku
Saya tipikal yang membaca banyak buku dalam satu waktu. Hahaha... Bisa sampai 5 buku yang saya baca bergantian baik ebook maupun buku cetak. Namun, prinsip sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, selembar demi selembar lama-lama tamat juga. Jenisnya pun campur antara fiksi dan non-fiksi. Ketika sibuk, membaca bisa saya lakukan di sela-sela perjalanan, menunggu klien, atau sebelum tidur. 

Membaca 1 Artikel Majalah

Iya, saya masih membaca majalah cetak. Kebetulan saya cukup niat untuk membeli majalah National Geographic, kadang versi Bahasa atau English. Alasan pemilihan majalah, lagi-lagi karena saya suka kontennya. Mereka banyak bicara tentang fakta, data terbaru, penelitian, dan perkembangan tentang dunia. 

Membaca Komik

Duh, kok kayaknya dosis harian saya di atas serius semua? Tenang aja, saya juga hobi baca komik di Webtoon. Saya lupa entah kapan hobi membaca serial cantik mulai luntur, karena setelah diperhatikan sekarang lebih suka membaca komik strip yang sederhana. Komik favorit saya adalah Lunarbaboon, dengan tokoh utama seorang pria yang menjalani kehidupan sehari-harinya. Dia seorang suami, ayah, pekerja, sama seperti kebanyakan pria. Namun di balik cerita-cerita singkatnya, saya belajar banyak hal tentang menerima diri sendiri saat depresi, esensi kebahagiaan, dan ilmu parenting. 

Masih banyak cara lain untuk perempuan dalam menambah ilmu dan tidak harus dilakukan harian. Bisa ikut kursus seminggu sekali atau training/workshop sebulan sekali. Jenisnya pun beragam bisa menyesuaikan hobi masing-masing. Kebetulan hobi saya membaca jadi cara saya belajar kebanyakan dengan cara membaca. Yang pasti, perempuan sangat perlu menimba ilmu setiap waktu.

Selamat Hari Kartini.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…