Open Water Diving Course - Surat Izin Menyelam

Sebenarnya saya lebih suka luar angkasa, tapi sering terpesona oleh makhluk-makhluk indah di dalam laut dan samudera. Saat pertama kali snorkling bertahun lalu melihat cantiknya terumbu karang dan ikan-ikan seperti menonton Discovery Channel secara siaran langsung, saya bertekad untuk bisa menyelam lebih dalam. Sayangnya saya ini penakut. Hahaha.. Melihat gelapnya laut dalam saja membuat saya sering berpikir aneh-aneh. Bagaimana kalau tiba-tiba muncul makhluk seram dan bahaya? Bagaimana kalau saya tersedot ke kegelapan dan tidak bisa menyelamatkan diri? Bagaimana kalau ini dan itu? 

Sejak awal tahun saya berencana untuk mempelajari banyak skill baru. Kemudian terpikirlah untuk merealisasikan keinginan belajar menyelam yang sejak lama tenggelam. Kebetulanada rencana traveling ke Bali dan seorang teman merekomendasikan sekolah selam yang, menurut pengalamannya, oke banget. Setelah kontak-kontakan, disepakati saya akan ambil kelas selam (Open Water Diving Course) selama 3 hari. Hari pertama teori dan adaptasi di kolam. Hari kedua menyelam di Padang Bai. Hari ketiga menyelam di Tulamben. Saya akan cerita sedikit tentang proses mendapatkan SIM (Surat Izin Menyelam) dari PADI Open Water ini. 

Hari 1 (12 Februari).
Jam 7 pagi waktu Denpasar, saya sudah dijemput dari hostel tempat menginap oleh pihak Scuba Duba Doo (lucu ya namanya) dan berangkat menuju markas mereka. Di sana bertemu pak Tunas yang akan menjadi guru sekaligus instruktur selama proses kursus menyelam ini. Empat jam pertama nonton video yang berisi teori open water mulai dari memilih alat, menyiapkan, menggunakan, sampai bagaimana perawatan. Melalui video ini juga dijelaskan dengan detail tahap-tahap melakukan penyelaman yang sesuai standar keamanan demi keselamatan penyelam sendiri karena kondisi di darat dan laut sudah pasti sangat berbeda. Selesai menonton video dan penjelasan, ada tes teori. Nggak susah, kalau mendengarkan penjelasan pasti bisa.


Usai makan siang, saya dan Pak Tunas menuju salah satu kolam renang di Sanur. Di sini langsung praktik apa-apa yang sudah saya tonton sebelumnya. Bagaimana rasanya? Saya takuuuuuutttttttt!!

Saya bisa renang, tapi menyelam beda perkara. Ada napas yang harus diatur, ada tabung oksigen dan beragam selang yang punya fungsi sendiri-sendiri, ada pemberat tubuh yang perlu dipasang-lepas, ada metode pertolongan pertama saat menyelam, tambahan lagi saya tipe panikan, duh pokokna raripuh weh. Tapi meski dalam keadaan begitu, Pak Tunas mengajarkan dengan telaten secara bertahap sampai saya paham karena demi keselamatan diri sendiri dan buddy di laut. 

Malamnya saya merenung, di kolam aja udah takut, gimana nanti di laut? Untungnya semua teman penyelam yang saya hubungi memberi semangat dan bilang akan baik-baik saja.

Hari 2 (13 Februari)
Kali ini akan mulai menyelam di laut, tepatnya di Blue Lagoon Padang Bai. Untuk mencapai lokasi penyelaman pakai perahu nelayan. Di sini sekalian praktik bagaimana lompat ke dalam laut. Blue Lagoon ini emang lautnya bikin ngiler ya. Biru jernih banget! Liatnya ada udah bikin semangat nyemplung. 

Dan ternyata benar, menyelam di dalam laut tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Isi laut itu indah dan warna warni banget! Ikan-ikan lucu, penyu, terumbu karang warna warni, bahkan pasirnya putih bersih. Saya kayak anak kecil liat mainan baru karena excited. Sayangnya saya nggak punya kamera underwater untuk pamer. Hahaha..

Selain liat-liat kedalaman laut, saya juga mempraktikan apa-apa yang sudah diajarkan dalam teori penyelaman. Bagaimana membuka masker di dalam laut, bagaimana memberi selang oksigen kalau partner selam kita kenapa-kenapa, bagaimana mengatur napas lewat telinga saat ada perbedaan tekanan, bagaimana mengatur gerak tubuh (bouyancy) supaya ala-ala putri duyung (waek :p). Intinya adalah, napas!


Hari 3 (14 Februari)
Pagi hari saat Valentine dan Bali diguyur hujan. Saya dibawa ke lokasi penyelaman di Tulamben yang memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dari Kuta. Sampai Tulamben, pikiran saya udah jelek aja karena melihat langit gelap, angin kencang, hujan deras, laut lepas, dan ombak ganas. Apalagi kali ini prakteknya menyelam langsung dari pantai yang artinya saya harus menggendong tabung oksigen 12 kilo, pakai pemberat tubuh, dan jalan di pantai berbatu menuju laut lepas. Hasilnya: kelabakan plus panik karena saya diterjang ombak terus. Huhuhu... T_T

Namun setelah berhasil masuk ke dalam laut... WOW.. indaaaahhh... Hahahaha... Ternyata apa pun yang terjadi di darat tidak terlalu berpengaruh di dalam laut. Sempat terdengar suara sssszzzz gitu saat masih dekat permukaan, yang saya kira tabung oksigen kenapa-kenapa, ternyata itu suara hujan deras. Saat menyelam makin dalam, arus tenang, ada taman terumbu karang yang indah banget sumpah! Ikan-ikan lebih variatif dari segi ukuran dan bentuk. 

Yang istimewa dari Tulamben adalah adanya kapal US Liberty yang rusak dan akhirnya tenggelam sejak berpuluh tahun lalu. Kapal ini gedeeee banget! Dan indah. Menyelam berkeliling di kapal ini seru dan bikin tekagum-kagum. Sahabat saya mengumpamakan seperti berpetualang di istana laut. Saya melihat gurita yang ngesot-ngesot di dinding kapal, tumbuhan yang warna warni, ikan-ikan cantik yang beragam ukuran (bahkan ada yang besarnya setengah badan saya!). Ada juga ular laut, cacing laut yang kalau liat di TV keluar masuk ke dalam tanah. Macem-macem deh. Ternyata keberadaan kapal karam ini justru menjadi ekosistem baru bagi beragam makhluk laut. Jadi bagi kamu yang merasa hatinya sudah patah berkeping-keping, tenang aja, hati kamu masih bisa jadi rumah yang nyaman dan indah bagi orang lain... #lhakokcurcol

Dengan ini saya resmi dapet SIM (Surat Izin Menyelam) Open Water. Yeay! Untuk penjelasan Open Water, googling ajalah ya karena ada banyak spesifikasi untuk penyelam.

Tiga hari ikut kelas menyelam, ternyata apa-apa yang saya takutkan di awal tidak kejadian sama sekali. Nggak ada makhluk seram (yang ada malah takjub berkali-kali). Nggak ada pusaran kegelapan yang menyedot (hahaha). Yang harus diingat adalah: tenang dan napas layaknya kita napas di darat. Olahraga selam ini juga aman untuk yang pakai jilbab, tinggal pakai penutup kepala. Ditambah lagi gigi saya berkawat alias pakai behel dan awalnya khawatir kenapa-kenapa karena selama di laut harus menggigit regulator. Lalu saya konsultasi dengan dokter gigi. Kebetulan beliau emang dokter gigi TNI AL yang biasa menangani penyelam juga, kata beliau nggak masalah. Usai menyelam nggak lupa laporan sama dokter gigi juga untuk dicek.

Senangkah? Senang bangeeett!! Ambil kelas selam di Scuba Duba Doo asyik karena dari awal saya kontak, dikasih penjelasan detail melalui WhatsApp, diantar jemput dari penginapan, diajarin dengan sabar sampai saya paham dan bisa. Kalau ada yang minat bisa googling Scuba Duba Doo. Atau kontak langsung ke Pak Yadi (0818556275). Beliau ini lumayan sibuk karena sering keluar negeri, tapi tiap kali online pasti WA langsung dibalas. 


Oiya, satu hal lagi. Selama kursus selam, yang saya liat penyelam lain orang luar negeri. Bahkan murid kursus yang orang Indonesia hanya saya sendiri. Sayang banget padahal laut Indonesia itu indah luar biasa dan patut dijaga. Semoga dengan sering menyelam, saya bisa ikut menyebarkan awareness tentang menjaga habitat laut Indonesia. :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club

Tips Belajar IELTS (yang ngga berhasil-berhasil amat)