Langsung ke konten utama

Cuti


Intinya, saya sedang ingin cuti menulis novel. Writer's block? Oh bukan, otak saya semacam mesin yang tidak pernah berhenti memunculkan ide-ide. Bahkan ada kebiasaan absurd seperti "saya lagi tidur-mimpi-dapet ide dari mimpi-bangun setengah nyawa-ngetik ide di hp-dan saat pagi bangun saya bahkan tidak sadar pernah menuliskan ide itu". Sayangnya, saya lagi malas menulis. Malaaaaaassssss sekali.

Mungkin penyebabnya karena rasa kecewa, pada beberapa hal, beberapa pihak, diri sendiri. Kecewa yang berujung pada muram durja dan menyibukkan diri pada hal lain alias mengurusi bisnis. Entahlah, cari uang dengan bisnis seperti menjadi healing tersendiri selain menulis. Soalnya setelah punya uang jadi bisa jalan-jalan.

Ah, mungkin saya hanya sedang butuh piknik. Minggu depan mau piknik keliling ASEAN. Semoga bisa menghilangkan sindrom malas menulis ini. Meski sepertinya kalaupun ada tulisan atau novel yang dihasilkan, saya sedang memilih untuk tidak menerbitkannya dulu. 


ps: yang nungguin Gloomy Gift part 2 (kalau ada) sabar yaaaaaa

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

wxrm mengatakan…
hiburan kok ngurusin bisnis, hedeh
dan ini mau bikin pengumuman bilang piknik keliling Asia Tenggara aja pake mbulet sanasini, dasar penulis, hih kzl.. :))
dwi sartikasari mengatakan…
Waaahhh yang jadi keliling ASEAN! Hikzzz, andai bisa ikut Mbak. Have fun ya! Semoga pulang-pulang bawain aku oleh-oleh. Lah, kenal juga nggak wkwk. Oke pulang pulang ngasih Goomy Gift part 2~ *part 1 juga belum baca deng. Belum punya uang. Pengangguran:(*

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Yang Berbeda: Orientasi Seksual dan Ras

Suatu kali di kelab malam, lantai dansa selalu menjadi tujuan utama saya untuk bergoyang. Lampu gemerlap, musik berdentam, dan di antara kerumunan saya melihat seorang perempuan rupawan dengan rambut indah panjang. Ia mengerling, mata kami bertemu. Tanpa ragu, gadis itu menarik saya untuk menari berpasangan. Beberapa pria melihat kami begitu asyik dan tertarik untuk mendekat, perempuan itu dengan setengah malas menghalau tak berminat. Seiring musik menghentak, kami berdansa makin semangat. Kami tertawa, saling sentuh menggoda, sesekali gadis cantik itu memeluk saya, tangannya serta merta meraba pinggul dan paha. Dengan alasan berpose selfie, pipi dan bibir saya pun diciumnya. Sampai ketika jemarinya berkelana ke bagian intim, saya merengkuh kedua pipinya dan berkata, "I'll go buy drinks. Okay?" 
Melanjutkan postingan sebelumnya, Australia tidak hanya menyuguhkan cerita tentang perbedaan agama. Kali ini saya akan bercerita tentang perbedaan lain yang jarang ditemui selama…