Wanita Cantik dan Siapa yang Ada di Baliknya

Hari ini Rhein mengantar Ibu ke reuni SMP beliau. Iyah, reuni SMP N 1 Plered setelah Ibu dan teman-temannya lulus 33 tahun lalu. Ini juga bukan untuk pertama kalinya karena setelah lebaran lalu Rhein mengantar ibu ke reuni dengan teman-teman ITB-nya. Lagi happening banget lah urusan reuni ini di pergaulan Ibu. Kemudian setiap datang ke acara tersebut, Rhein selalu mendengar komentar yang sama tentang Ibu dari teman-temannya.
Neng Tuti yang dulu gendut sekarang langsing, awet muda, cantik, sukses.
Kemudian, Ibu akan tertawa bahagia dan memperkenalkan keluarganya (Iya, setiap ada acara pasti sekeluarga mengantar, kata Ibu mau pamer). Ibu masih cantik, tentu, anak-anaknya aja kalah cantik jauuuhhh. Sukses. Apa sih takaran sukses? Menurut versi Ibu, sukses baginya adalah punya anak-anak baik, sehat, pintar, berprestasi, menjadi wirausahawan dengan karyawan makmur, dan tentunya memiliki suami yang... tidak dijelaskan dalam kata-kata.

Bagaimana Ibu bisa menjadi seperti itu? Dari segala macam curhat beliau tentang hidupnya, Rhein bisa mengambil beberapa poin. Satu, tentunya karena kemampuan survival Ibu yang tangguh (Ibu anak pertama, ayahnya meninggal saat kelas 2 SMA dan beliau langsung menjadi tulang punggung keluarga dengan 6 orang adik).

Dua, Bapa datang meminang Ibu, menerima sosok perempuan yang gendut, bulet, dari keluarga miskin, dengan tanggungan ibunya (nenek) dan 6 adik yang kecil-kecil. Kemudian, Bapa dengan baik hatinya memuliakan Ibu. Apakah Bapa memberikan banyak uang untuk Ibu dan keluarganya serta jatah ke salon supaya Ibu jadi cantik? NO.

Sejak mereka nikah, Bapa memberikan seluruh gajinya ke Ibu untuk dikelola. Pesan Bapa hanya satu, "Terserah Ibu mau ngasih uang berapa ke keluarga & adik-adik, kelola uang yang ada, yang penting kita cukup. Tanpa hutang." Gaji Bapa besar? Ayolah, berapa sih gaji pegawai BUMN rendahan (masih muda kan ceritanya)? 

Ibu juga dulu sempat kerja kantoran, perusahaan minyak luar negeri cabang Indonesia. Setelah melahirkan Rhein, Bapa menyuruh Ibu berhenti kerja. Ibu sempat terpuruk. Ayolah, beliau lulusan ITB, butuh biaya untuk keluarga, dan diminta berhenti kerja hanya bergantung pada gaji suami? But hey, cukup ternyata. Tanpa hutang.

Rhein tahu seberapa besar keinginan Ibu untuk berkarier lagi, bukan hanya sebagai Ibu rumah tangga dengan 3 anak bandel yang susah makan. Rhein tahu diam-diam Ibu sering mengirim surat lamaran, curi-curi waktu untuk interview, diterima pula. Atau saat Rhein tahu Ibu menulis surat untuk sahabatnya yang melanjutkan kuliah di Inggris dan berkata, "Saya seperti berada di tempat sampah. Ibu rumah tangga, repot dengan anak-anak, rumah tidak pernah rapi, dan penampilan daster butut tiap hari". Namun, Bapa tetap pada pendirian Ibu tidak boleh bekerja selain mendidik anak-anaknya sendiri.

Baru saat adik Rhein yang bungsu sekolah SD kelas 1, Bapa membolehkan Ibu untuk membuka usaha jahitan di rumah. Ngga main-main, dibangun toko sendiri, lengkap dengan mesin jahit, obras, wolzom, dan lubang kancing. Rhein saat itu kelas 1 SMP dan tiap sore sepulang sekolah naik sepeda keliling kecamatan untuk sebar brosur usaha jahit Ibu yang baru buka (kecil-kecil bakat marketing, yes).

Beranjak dari usaha jahit, Ibu mulai kulakan baju, seprai, bedcover, dan segala macam perlengkapan rumah. Tukang kredit, bahasa Zimbabwe-nya. Modal? Dari Bapa tentu, menyisihkan gaji, pinjam ke koperasi kantor, dll. Rhein tahu, Bapa selalu dengan bangga bilang ke teman-temannya, "Istri saya pebisnis". Terakhir dari Tukang Kredit ini, Ibu juga jualan hape, laptop, dan segala macam yang Rhein juga nggak hapal.

Kemudian, Bapa meminta Ibu berhenti jadi Tukang Kredit dan mengusulkan untuk membuat perusahaan sendiri. Bergerak di bidang jasa sebagai vendor untuk menyediakan peralatan & perlengkapan acara atau pesta. Saat itu Bapa masih kerja di BUMN dan pembuatan perusahaan ini dalam rangka persiapan beliau sebelum pensiun. Jadi sebelum Bapa pensiun, perusahaan sebagian besar dikelola Ibu, Bapa hanya mengajarkan beragam strategi untuk mengembangkan. Setelah Bapa pensiun, mereka sama-sama mengelola perusahaan menjadi semakin besar, merambah bisnis lain yang masih berhubungan dengan urusan acara dan pesta. 

Alhamdulillah... Hey, Ibu dan Bapa tidak hanya membesarkan keluarga sendiri saja. Keluarga Ibu pun, nenek dengan 6 adiknya, bisa dikembangkan potensinya hingga bisa kuliah dan sekarang bisa hidup mapan tanpa sokongan. Bapa juga yang ikut mendidik adik-adik Ibu dengan menyarankan untuk melanjutkan sekolah/kuliah jurusan apa, prospek kerja seperti apa, dll. 

Dan begitulah cerita Ibu yang cantik. Ada sosok Bapa yang tahu potensi Ibu, yang mendidik Ibu dan mengajarkan banyak hal, yang tahu waktu yang tepat kapan Ibu bisa mengembangkan potensinya (setelah dirasa cukup memberi pendidikan dasar pada anak-anak, tentunya), yang membebaskan Ibu untuk berkreasi apa saja, menjalin relasi dengan siapa pun, yang tidak gengsi ketika penghasilan bisnis Ibu lebih besar daripada gaji pegawai BUMN, yang tidak hanya memberi rasa aman untuk Ibu sendiri tapi juga keluarganya, dan pastinya... yang selalu ada ketika Ibu merasa jatuh.

Pernah Rhein bertanya apa alasan Ibu menerima pinangan Bapa (di antara sekian banyak lelaki yang naksir gitu loh). Jawaban Ibu singkat saja, "Bapa itu, di atas gunung aja solat." 

Bahagia. Tentu Ibu bahagia. Bukankah bahagia membuat seorang wanita semakin terpancar kecantikannya?

Ibu yang jadi kurus karena stress ngurus anak pertamanya (iya, Rhein)
Cantik-cantik? Jelas lah! Siapa dulu suami & Bapanya.

Maka kalau ada yang bertanya, "Rhein kapan nikah?" Maka jawaban singkatnya, "Cari yang kayak Bapa susah."


Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Unknown said…
Salut untuk Ibu-nya Fathia,, kereen,,
Retno said…
keren ceritanya :D
Unknown said…
cerita yang bagus.... salam perkenalan ya ^_^
Rhein Fathia said…
@Hastomi:
Makasih, Tomi...

@Retno:
Makasih..

@Ditoko Kita:
Salam kenal juga.. :)
Unknown said…
ibunya keren banget :)
semoga makin sukses ya

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok