Langsung ke konten utama

Semarang, Serayu, Dieng - Land Above the Clouds

Happy Go Lucky Team!


Perjalanan menuju Semarang
Awalnya, kami berencana untuk pergi ke Karimunjawa. Seperti cerita yang sudah-sudah sejak perjalanan ke Bosscha dan Bromo, gw pun bikin rancangan perjalanan, jadwal main-main, rincian biaya, sampai ngurusin booking tiket. Pokoknya, seksi sibuk deh. Sayangnya, setelah semua rencana tersusun rapi, ternyata kapal dari Semarang menuju Karimunjawa nggak berangkat... Hiks.. hiks.. T_T Alasannya karena saat itu kondisi cuaca dan ombak lagi nggak bagus. Gw juga sempet baca sih banyak wisatawan yang nggak bisa balik dari Karimunjawa karena ombak tinggi. Nah loh, ketar-ketir dong gw sama temen-temen takut nggak bisa balik ke Jakarta. Ya sudah, daripada nggak jadi backpacking, kami pun tetep cabut ke Semarang untuk memanfaatkan long weekend.
Senang-senang di Semarang dan di penginapan Dieng
Sampai di Semarang, thanks to Kus-kus yang udah ngasih kami penginapan gratisan. Hehehe... Kami pun jalan-jalan keliling kota semarang malem-malem ke Semawis sama Simpang Lima. Nggak sempet eksplore Semarang lebih jauh karena udah pada capek dan besok harus melakukan perjalanan ke.... DIENG!! Yap, nggak jadi ke Karimunjawa, kami pun belok ke Dieng. Tadinya sempet mau ke Yogya, tapi plis deh long wiken, pastinya nggak kebayang penuhnya tuh kota.
Rafting dulu di Serayu
Sebelum sampai ke Dieng, tiba-tiba ada yang usul gitu aja ngajakin arung jeram. Alasannya sih karena di Dieng nantinya cuma liat-liat pemandangan aja, kurang menantang. Ya sudah deh, kami belok dulu ke Banjarnegara dan rafting di Serayu. Seru banget, loh! Asli, meskipun gw sama temen-temen cuma modal teriak-teriak sama gaya-gayaan doang kalau pas mau difoto, tapi bikin pegel-pegel banget. Hahaha... Serayu ini salah satu lokasi rafting yang terkenal di Indonesia. Bahkan sering jadi tempat perlombaan. Yah, bisa sombong dikit lah kita-kita ini pernah rafting di tempat terkenal.. :p
Foto-foto dulu ah
Beres rafting, sore-sore langsung cabut ke Wonosobo. Sempet makan malem di angkringan dulu. Nggak lama-lama di sana, terus ke Dieng deh... Suasana Dieng malam hari dingin pastinya. Cuma buat gw sih nggak se-dingin waktu di Bromo yang bikin nggak bisa tidur karena menggigil. Mungkin juga karena di Dieng ini kami dapet homestay yang menyenangkan. Satu rumah ada 2 kamar besar plus springbed+selimut ukuran besar, 1 ruang tamu dengan sofa besar, 1 ruang TV dengan kasur, 1 kamar mandi dengan fasilitas air panas, dan seluruh lantai di rumah itu dilapisi karpet. Huhuuuyyy... Hangat, deh. Apalagi pemilik homestay juga ngasih air panas, kopi, gula, plus teh. Dengan harga 450 ribu untuk 8 orang (bahkan bisa lebih) dengan fasilitas oke, lumayan lah ya... Eiya, foto penginapan ada nyempil di foto ke 3 dari atas ya.. :D
Sunrise di Dieng, Telaga Warna, dan Kawah Dieng
Sebelum subuh, kami udah bangun. Niatnya pasti mau ngejar sunrise di dataran tinggi Dieng yang konon merupakan dataran tertinggi di Pulau Jawa. Sama seperti kalau mau naik ke gunung lain, kami cuma naik mobil sampai kaki gunung, selanjutnya pasti mendaki! Nah, pendakian ke puncak Dieng ini lebih sukar dibanding kalau ke Bromo (menurut gw). Karena nggak ada fasilitas jalan setapak alias ya harus nerobos-nerobos pepohonan dan hati-hati banget karena tanah licin. Sekali kepeleset, ya nggak kebayang lah ya jatuh ke jurang... :p . Sampai di Puncak, WOOOOWW....!! Kami pun bisa melihat sunrise yang cantiknya Subhanallah banget itu. Apalagi setelah sunrise, arak-arakan awan muncul, bener-bener berasa lagi ada di Negeri di Atas Awan. Capek-capek setelah rafting terus hiking nggak terlalu terasa deh. Nggak nyesel pokoknya...
Sunrise dan Telaga Cebong
Beres liat sunrise, lanjut keliling ke Telaga Warna, Telaga Cebong, Dieng Plaetau, Kawah Dieng, dan kompleks Candi Arjuna. Oiya, karena kita datengnya pagi-pagi banget ke semua tempat wisata itu, jadi nggak terlalu rame dan asik buat eksplore... (narsis-narsis poto maksudnya). Kalau udah siang, banyak banget pengunjung kayak waktu kami ke Candi Arjuna.
Kuliner... Kuliner.. Kuliner...
Nah, backpacking nggak lengkap tanpa kuliner! Di Semarang, kami icip-icip makanan yang gw pun lupa apa namanya.. Pas di Dieng, ada mie ongklok yang jadi makanan khas, makannya sama sate kambing. Berhubung gw emang udah nggak makan read meat, jadi ya mie nya aja deh... :p
Narsisme itu penting!
 Inilah foto narsis!
Here we are!
Beberapa tips untuk ke Dieng:
  • Bawa mobil pribadi. Perjalanan ke Dieng jarang banget angkutan umum dan banyak lokasi yang akan lebih mudah kalau bawa kendaraan sendiri. Apalagi tempat wisatanya banyak. Mobil bisa sewa dari Yogya atau Semarang.
  • Siapkan perbekalan yang banyak terutama minum. Sepanjang perjalanan menuju dieng pastinya jarang pertokoan (namanya juga ke pegunungan). Nemu Indo/Alfa maret itu berasa nemu peradaban. Siapin perbekalan untuk selama menginap di sana ya...
  • Di sana banyak penginapan yang bisa dicari, jadi nggak perlu khawatir. Tapi kalau mau jaga-jaga bisa hubungi beberapa contact person pemilik homestay di Dieng yang bisa dicari by googling. Sorry gw juga lupa. Hahaha...
  • Bawa baju hangat, jaket, sweater, dll. Gimana pun, di sana tetep dingin.
  • Bawa masker. Kalau mau ke kawah yang penuh belerang, musti tutup hidung pakai masker, sapu tangan, atau apapun lah. Beracun, cyyynnn...

So, segini dulu catatan perjalanan ke Dieng ini. Kami pulang ke Jakarta dengan badan setengah remuk. Arung jeram, mendaki pegunungan, tidur di kereta, dan pagi-pagi sampe Jakarta langsung cabut ke kantor... Hahahaha... Namun tetap, menyenangkan! :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

langkah fie mengatakan…
menyenangkan sekali rhein melihat foto fotonya huftt bikin iri deh...

jadwal liburanku batal semua neh.... butreekkkk.... gak bisa kemana-mana :(
merry go round mengatakan…
Tripnya seru, perjalannya seru, foto-fotonya seru.... Kompliiitttt!!!!!
Alif Rakhman mengatakan…
Wah rangkuman perjalanannya komplit plit plit.
Ditunggu kedatangannya kembali ke Dieng :)

Hormat Kami
Tukang Mie Ongklok
rhein fathia mengatakan…
@Fie:
Hihihi... ayok2 liburan.. aku kl 2-3 bulan ga liburan, bisa stress parah... Hahaha..

@Merry:
Thanks, dear... :D

@Alif:
Iya nih.. kapan2 pengen main lagi ke sana.. wah, penjual makanan khas ternyata. Boleh nih kalo pas kesana mampir... :D

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …