Langsung ke konten utama

Kembali jadi Kuli: Editor

 My best friend told me, "Pilih kerjaan yang jadi passion lu. Karena ketika lu seneng menjalaninya, meski capek lu tetep seneng."

And, here I am! Kembali menjalani profesi kuli Jakarta setelah 2 bulan jadi full-writer di rumah untuk menulis novel CoupL(ov)e. Emang sekarang jadi kuli apa sih, Rhein? Jadi ceritanya, kurang lebih sebulan yang lalu Rhein dapet panggilan dari beberapa perusahaan untuk tes kerja. Lolos lah di tiga buah perusahaan. Pertama dari penerbit buku, untuk jadi editor. Kedua dari sebuah majalah, jadi repoter gosip! *Demi apa??!!*. Ketiga di perusahaan advertising, jadi web developer & content writer, sama kayak di kantor sebelumnya. Terus, mana yang Rhein pilih? Jeng...jeng...!

Awalnya Rhein sempet bingung diantara dua pilihan *ceilaaahh berasa lebih berat daripada milih cowok*. Antara jadi editor atau web developer? Lah, reporter gosip? *buang*. Keduanya pekerjaan menarik. Jadi editor, jelas menarik karena Rhein akan bekerja di dunia yang penuh buku. Dunia buku?? Oemji.. That's heaven for me! Jadi web developer di periklanan juga menantang karena Rhein pasti bakal ketemu banyak orang kreatif dan belajar banyak hal. So, then I call him for advice. Ternyata, memang benar keputusan saya untuk mengikuti saran dia. I choose Editor. Hohohoo...

Setelah 3 minggu kerja, gimana rasanya? Senaaaaannnggg...!! Jadi editor ternyata nggak cuma cek-cek titik spasi koma plus EYD loh, Manteman... Tapi pegang karya seseorang dari yang berupa naskah sampai jadi buku. Apalagi Rhein jadi editor untuk buku-buku resep masakan, craft, dan buku kesehatan. So pasti, Rhein juga ikut pemotretan untuk isi buku tersebut. Kebayang dong, pas Rhein pegang naskah buku masakan, Rhein bakal ke rumah Chef yang bikin buku masak tersebut, terus motret masakan yang udah jadi, dan pastinya ngicip gratis! Hahahaha...

Lain lagi waktu Rhein pegang buku kesehatan, penulisnya udah profesor bo... Jadi tuh isi buku emang rada 'berat'. Karena Rhein baca tuh buku berulang-ulang dari awal hingga akhir sampai mendetail *iyalah sampe titik koma segala*, Rhein jadi paham isi buku tersebut. Bener-bener nambah ilmu. Rhein jadi mikir, coba dulu pas kuliah Rhein jadi editor buku fisika. Wah, IP 4 pasti dapet tuh... Hahaha...

See, I use my passion on my job. Kalau ditanya capek, kerjaan mana sih yang nggak capek? Apalagi kalau lembur. Tapi ketika kita mengerjakan dengan senang hati, rasa lelah itu bener-bener terasa worth it. Rhein sering liat orang-orang yang mengeluh karena pekerjaan mereka. Bilang capek lah, sibuk lah, kesannya depresi banget. Bagi Rhein itu berarti 2 hal: pertama, mereka hanya cari perhatian seolah-olah ingin menunjukkan pada dunia dirinya orang paling sibuk dan menderita. Kedua, emang kerjaan tersebut bukan di passionnya. Kalau alasan pertama, yah itu mah derita orang tersebut. Kalau alasan kedua, hey... take it or leave it! Complain about your job will never solve your problem.

Dulu waktu Rhein memutuskan resign dan nganggur, bukan berarti Rhein nggak merasa takut. Jujur ada rasa khawatir. Duh nganggur, ntar nggak punya duit buat belanja make up gimana, ga bisa backpacking gimana, kalau ditanyain orang-orang kerja di mana trus jawabnya "punya perusahaan sendiri" tapi disangka sombong gimana? Tapi toh karena di kantor lama memang terlalu monoton dan tidak ada tantangan dalam kerjaan *meski gaji lumayan*, maka resign jadi pilihan. Rhein memilih untuk menikmati masa nganggur *karena sejak lulus kuliah belom merasakan*, menikmati rasa bokek, menikmati ikut tes kerja ke sana kemari. Bosan? PASTI! Namun ketika dinikmati dengan sabar dan senang hati, plus doa yang nggak putus pastinya, ternyata Allah ngasih pekerjaan yang lebih menyenangkan :).

So, enjoy your life... Even in the most boring time or the busy one. Mengeluh tidak akan menghasilkan jawaban.


PS: Karena sekarang saya jadi editor, bagi siapapun yang suka masak, buat kerajinan tangan kayak craft, dan ahli di bidang kesehatan, boleh loh kasih karyanya ke saya. Siapa tahu bisa diterbitkan bukunya. Ketika menjadi penulis, berbagi ilmu menjadi lebih luas. Ilmu akan jadi pahala yang tak pernah putus bahkan ketika kita mati... :) Yuk buat tulisan yuuukkk.... 

 Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

langkah fie mengatakan…
aku juga sedang stress neh sama kerjaan rhein, ini di golongkan hanya cari perhatian atau bukan passionnya heheheh...

semangat yah di tempat kerja baru \^0^/
Juminten mengatakan…
waaa... tampak menyenangkan pekerjaan barumu. ^^
aku dulu jg pernah pengen jd editor. tp nasib berkata lain... jadilah aku sekarang sebagai programmer. :P
Qori Reader mengatakan…
ah jadi penulis...
itu cita-cita saya waktu dulu. Mau jadi penulis terkenal, ternyata diatas penulis tersebut dibanding gak ada apa-apanya ditangan editor.

ngomong-ngomong masalah menulis, kenapa ya kita ngomong lancar tapi kalau disuruh menulis males rasanya.
ini terjadi pada dunia blogging saya.
hampir 3 minggu gak pernah diupdate lagi.
Admin mengatakan…
ENGLISH TUTORS URGENTLY NEEDED!!!

A Fast Growing National English Language Consultant is hunting for :

=> ENGLISH TUTORS <=

Qualifications:

1. Competent, experienced, or fresh graduate
2. Proficient in English both spoken & written
3. Friendly, Communicative, & Creative

Placement :
=> Batam - Pekanbaru -Balikpapan - Banjarmasin - Palembang - Medan - Makassar

Send your application and resume to : easyspeak.recruitment@gmail.com as soon as possible.

Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.
Tukang Gosip mengatakan…
waah sekarang gosipnya Rhein udah jadi tukang editor yaaa... segala professor juga di cek? hebat banget...
emang sehari dapet berapa naskah Rhein?
Maya Irmayanti mengatakan…
waaaaaaaaaaaaaaa.....jadi iri baca postingan ne,n malah niat resign jadinya..hihihi
:D
Aldriana A. Amir mengatakan…
selamat buat kerjaan barunya, Rhein!

menurutku jd editor jg sama menyenangkan menjadi penulis.. :)
apalagi kalo buku yg digarap sudah jadi, sama2 senang! :D

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …