Menjadi Pendengar yang Baik

Beberapa hari belakangan, saya lagi gloomy. Kombinasi PMS, banyak kerjaan, diserbu rekan kerja karena saya dikenal pekerja cepat untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka (yes, I'm bragging). Kemudian bos bikin acara dinner bareng tim dan tentu saya pulang dengan kondisi terlalu banyak minum. Keesokan harinya, teman se-tim tepar dan saya harus back-up kerjaan mereka. Sebenarnya ngga semua harus dikerjakan, tapi saya gampang iritasi kalau ada yang ngga selesai.

Lalu tamu bulanan datang tak lupa menggandeng pusing, kram, dan perasaan melankolis. Kalau sudah begini, pikiran jadi kemana-mana. The best time to be vulnerable and overthinking that would bring worry and anxiety. Karena sudah pernah mengalami kondisi ini berkali-kali, setidaknya saya tahu 'pertolongan pertama untuk diri sendiri'. Mudah saja, cukup menjadi pendengar yang baik bagi diri sendiri. Berbekal pengalaman menjadi pendengar yang baik bagi banyak orang, biasanya saya membuat percakapan absurd dan jujur.



"Are you okay?"
"No, I'm not okay."
"Would you tell me what makes you not okay or what do you want?"
"I want someone ask me 'how was your day?'"
"Okay. How was your day?"
"Capek, kesel, pusing, overwhelmed, ..." (lanjut kukulutus ke diri sendiri).
"Hmm.. I know, I understand. Terus selanjutnya kamu mau gimana lagi?"
"I want to complain about my life."
"Sure, I'll listen."
Then, I'll complain about lot of things. "I can't go home, I feel lonely, I miss my family and friends, why am I always shopping while I stressed that made me broke and give more stress? Why I don't have romance life like other uwu couple? I always tried to be good listener when other has problem or angry or tired, tapi kenapa pas aku gloomy gini ga terjadi sebaliknya? Am I that annoyying when I become clingy? Why this people work so slow? etc.. etc... etc..."
Kemudian setelah capek komplain, saya akan bertanya lagi, "What makes you happy and blessed in your life?"
Tentu jawabannya lebih banyak dari komplain saya tadi.
"Gimana perasaan kamu sekarang?"
"I still want to cry without reason."
"Of course you're allowed to."
Lalu saya akan berurai air mata dengan pikiran berkecamuk, perasaan insecure, mengasihani masa lalu, mengkhawatirkan masa depan.
"There... there... what can I do to make you feel better?"
Karena yang bertanya saya sendiri, tentu harus dijawab dan dilakukan oleh diri sendiri juga. Hahaha... Kadang saya bilang pengen luluran, baca buku, jalan-jalan ke taman, atau nulis random kayak gini.

Apa bedanya dengan introspeksi? Entahlah, saya merasa kata tersebut terlalu judgmental. Bayangkan ketika perasaan sedang kalut, lelah, banyak masalah, lalu ada yang bilang, "Kamu sebaiknya introspeksi." -_- Sebisa mungkin saya menghindari kata tersebut saat mendengarkan orang lain, pun ke diri sendiri. 

Sambil mendengar semua uneg-uneg dan kalau tidak ada tanggung jawab yang urgent, saya akan membiarkan diri sendiri bergelung di balik selimut dalam 1-2 hari. Being honest and vulnerable usually give me clear view about lot of thing. Hal-hal yang biasanya hanya ada dalam harapan, asumsi atau imajinasi. Sometimes it bring more worry, but it much better if I understand something real. 

It's important to be a good listener to yourself. Sometimes you listen to something you didn't want to know. Most of the time it didn't solve your problem. But you will embrace yourself, it will make you feel better because there's someone accept who you are. And it should be yourself first. 

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok