Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

Hari Ibu dan Mahmud Part-Time

Karena cerita tentang Ibu saya udah banyak (terakhir nulis ini), sekarang saya mau curhat tentang pengalaman saat bekerja menjadi au pair, atau saya lebih suka menyebutnya Mahmud Part-Time.
Bulan Juli lalu, ada pasangan German-Indonesia menghubungi dan meminta saya untuk membantu mengurus bayi mereka (kita sebut namanya Bayik) yang baru berusia 7 minggu. Saya super jarang ketemu bayi, menggendong bayi, apalagi pengalaman mengurus bayi, even keponakan pun cuma ketemu pas lebaran. Jadi saat pertama kali ketemu Bayik, dengan mata bulat yang menatap saya sendu, yang terlintas dalam pikiran saya, “Oh nooo.. Bayi, what should I do? What should I do?”
Saya excited sekaligus takut. Duh, ini bayi kecil banget kalau kenapa-kenapa gimana?? Ibunya Bayik (kita sebut saja Mommy) langsung mengajarkan cara menggendong dan bagaimana merebahkan Bayik ke box. Hari itu juga saya diajari cara ganti popok, bikin susu formula sesuai takaran, ganti baju, dll. Problem pertama: Bayik kalau apa-apa nangis. *ya…

What Have You Done in 8 Months

Tanpa terasa (terasa sih sebenarnya) sudah delapan bulan saya tinggal di Australia. Hidup 8 bulan di sini jauh lebih warna-warni daripada 28 tahun saya di Indonesia. Saya kerja, kuliah, jalan-jalan. Saya naksir dan ditaksir. Saya jatuh cinta lalu patah hati. Saya tertawa bahagia kemudian berderai air mata penuh drama. Saya nggak ninggalin sholat meski kadang khilaf dan melakukan maksiat (hey, saya bukan malaikat). Pertemuan dan perpisahan. Memiliki dan kehilangan. Memeluk erat kemudian melepaskan. 

Perjalanan membuat saya menyederhakanan kehidupan sehari-hari; apa yang penting, apa yang mendesak, apa yang membuat bahagia. Jarak membuat saya melihat lebih jelas siapa-siapa yang ada ketika bahagia, siapa-siapa yang saya butuhkan dan hubungi ketika kesusahan menerpa, siapa-siapa yang ada dalam keduanya. Waktu adalah garis dimensi yang menjadi saksi (atau mungkin sosok penentu) kapan saya siap akan sesuatu. Saya belajar memahami semesta memiliki konspirasi tersendiri agar saya melalui se…