Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari September, 2015

[TIPS] Mengatur Uang a la Rhein

Di postingan tentang backpacking, ada yang minta tips mengatur keuangan versi saya padahal profesinya penulis merangkap pengangguran dan pebisnis ala-ala. Hahaha... Baiklah, akan coba saya share menurut pengalaman ya..  Sebenarnya, saya sama seperti orang-orang terutama cewek-cewek pada umumnya sih: suka belanja padahal belum tentung barangnya guna. Muahahaha... Oke, ini dia kebiasaan-kebiasaan saya kalau urusan duit.
1. Nggak bisa pegang uang cash & semi cash (tabungan yang bisa diambil mudah seperti ATM, m-banking, gesek debit). 2. Suka belanja karena laper mata. 3. Punya kemampuan pencatatan keuangan yang cukup baik. Ya kalau ngga punya, gimana bisa ngurus keuangan perusahaan keluarga, yes? Walaupun Tenda Destarata masih level UKM (Usaha Kecil Miliaran #plak, tapi AAMIIINN). 4. Anti-HUTANG
Dengan tiga kebiasaan di atas, saya membagi managemen keuangan pribadi menjadi dua hal:
FINANCE ATTITUDE Di bagian ini saya mau cerita gimana sih perlakuan saya terhadap uang dalam keseharian…

Perseteruan Sepersusuan

Jadi ceritanya, karena perempuan Indonesia seusia saya kebanyakan sedang dalam tahap memiliki buah hati yang lagi lucu-lucunya, tentu laman facebook saya pun sering dihiasi oleh segala pernak-pernik bumil-busui (istilah kerennya). Salah satunya adalah tentang pemilihan susu untuk bayi usia sekian sampai sekian, ASI, ASIP, sampai para bayi yang udah lulus S1-S2-S3. 
Tentu teman-teman saya para mahmud (mamah muda) ini sering share link-link berita, artikel, posting status atau komen menurut pendapat masing-masing. Sebagai perempuan single, saya sih nggak pernah ikut komentar, ya karena ga ada ilmu & pengalaman juga. Paling hanya memperhatikan pola tren apa-apa yang sering jadi pembahasan para mahmud. Yang sering dibahas itu: Ibu di rumah vs Ibu bekerja atau ASI vs Sufor vs UHT.
Suatu hari karena saya tertarik pada sebuah status/link artikel FB teman yang komentarnya rame banget urusan ASI vs Sufor vs UHT sampai-sampai para mahmud ini ada yang memberi argumen penelitian profesor X b…