Juni 26, 2013

Tentang Kematian

Di kampus, Rhein dapat mata kuliah Kepemimpinan. Apah? Jadi pemimpin sampe ada mata kuliahnya segala? Itu mah ikut banyak organisasi atau kepanitiaan aja, jadi ketua, lebih real! Atau kerja beberapa tahun di perusahaan, sampai diangkat jadi bos. No.. No.. Mungkin perlu sedikit Rhein tekankan: Pemimpin itu bukan status atau jabatan. Pemimpin itu karakter seseorang.

Bicara tentang pemimpin, udah pada tahu Steve Jobs, dong. Dalam pidato beliau yang sangat cetar di Universitas Stanford pada tahun 2005, Steve Jobs bercerita tentang ringkasan hidupnya dalam 3 point penting, yaitu:
  1. Connecting the dot
  2. Love and Lost
  3. The death
Saat ini, Rhein pengen bahas yang poin 3, tentang kematian. Steve jobs mengatakan di dunia ini tidak ada orang yang ingin mati, bahkan orang yang ingin masuk surga pun mereka nggak ingin melalui tahap 'mati'. Loh, kalau kasus bunuh diri? Mereka bukan ingin mati, mereka ingin lari dari masalah. Back to Steve Jobs, dalam pidatonya pun beliau mengatakan, "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.

Dari sedikit kalimat tentang kematian dari Steve Jobs, Rhein mencoba menarik ulur ingatan pada sabda Rasulullah, "Bekerjalah untuk duniamu seakan akan kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah seakan akan kamu akan mati besok (Al Hadist)". Kematian. Menjadi satu hal penting yang dikatakan oleh pemimpin umat manusia dan satu sosok paling berpengaruh di dunia saat ini. Why?

Dulu, mengingat mati mungkin hanya sekedar teori yang lewat dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Plis deh, itu kan menyeramkan! Bahkan sampai sekarang pun Rhein masih sering merasa takut. Tapi tidak bisa dipungkiri, berada dekat dengan kematian akan membuat seseorang berubah, membuat sosok tersebut ingin merubah sesuatu menjadi lebih baik meski sekecil apa pun. Ketika Steve Jobs sudah mengetahui kalalu dirinya mengidap kanker pankreas dan waktunya tinggal sedikit, beliau berkata, Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life.

Satu pengalaman Rhein dekat dengan kematian itu sekitar tahun lalu. Ceritanya lagi backpacking ke Lombok, untuk pertama kalinya, menantang diri sendiri menjadi solo backpacker dan hanya berbekal pengetahuan ala kadarnya dari Google. Iya, sendirian! Suatu pagi, Rhein menyewa motor untuk jalan-jalan dari Mataram hendak menuju Kuta. Kondisi jalanan di Lombok itu menyenangkan, besar, aspal mulus, jarang macet, pokoknya bagi pengendara di Jabotabek yang biasa kena macet, pasti berasa pengen ngebut melulu, deh. Satu hal yang agak menyeramkan, banyak truk besar lewat, bahkan di jalan perumahan sekalipun.

Karena ingin cepat-cepat sampai Kuta, supaya nggak terlalu siang, Rhein agak ngebut. Tapi masih di jalur lambat, sebelah kiri, selayaknya kalau mengendarai motor. Sampai tiba-tiba, Rhein lihat seperti ada tumpahan air di sepanjang jalan. Kengerian mulai terjadi, entah kenapa, jalanan tiba-tiba terasa licin, motor oleng hebat, nggak bisa di-rem! Sekian detik kemudian Rhein terpelanting! Nggak cukup sampai di situ, selain terpelanting dan guling-guling di aspal, Rhein juga terseret motor yang posisinya ada di atas tubuh gw. Dalam otak Rhein, sekali ada truk besar melintas dari arah berlawanan, wassalam... Waktu itu rasanya detik-detik berlalu lama banget, kenapa Rhein terseret terus? Yang bisa Rhein lakukan saat itu hanya jerit-jerit Allahuakbar, terbayang wajah Bapak-Ibu, adik-adik, dan sudah ikhlas kalau pun harus dipanggil Yang Mahakuasa. Di tempat asing, sendirian.

Entah berapa puluh meter terseret sampai akhirnya motor berhenti dan Rhein masih hidup! Rhein membayangkan, kalau nggak pakai helm kenceng, sepertinya sudah 'lewat', karena pas terpelanting itu kerasa banget benturan di kepala. Oh, baju, jaket, dan tas udah sobek semua karena terseret aspal. Sampai tembus ke kulit dan berbekas sampai sekarang. Lumayan, jadi pengingat.

And hey, I'm still alive now. Alhamdulillah sehat wal afiat. Kalau diingat-ingat lagi sekarang, pengalaman dekat dengan kematian itu membuat Rhein jadi lebih mikir ketika akan memutuskan sesuatu, ada rasa ingin lebih membahagiakan orang lain terutama orang terdekat, dan memunculkan ambisi ingin melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi kalangan yang lebih luas. Alasannya, mumpung masih ada waktu. Oh, mungkin pengalaman kematian ini belum membuat Rhein sampai pada tahap menjadi pemimpin seperti Steve Jobs, ya. Dia itu emang ada unsur jeniusnya.

Namun, mengingat bahwa kita punya batas waktu ternyata bukan hal buruk. Bagi Rhein, justru memicu diri sendiri untuk melakukan banyak hal yang disuka, tetap bahagia, dan bermanfaat bagi sesama. Again, as Steve Jobs said, your time is limited, so don't waste it living someone else's life.

#30DaysChallenge Day 14 

Love is real, real is love. -John Lennon-

0 alien ngoceh-ngoceh: